Travel

Jogja: Taman Pintar, 26022014

Sebuah peluru bisa menembus satu kepala, tapi sebuah buku bisa menembus ribuan kepala

GambarBerbagai buku aku biarkan menembus kepalaku. Dulu.

Benar kata beberapa orang, waktu berjalan cepat, namun momen tetap. Maka pandai-pandai lah menciptakan momen, sebelum waktu itu berlalu. Tanpa terasa, aku harus menjalani juga kehidupan sejauh ini. Buku kadang tak terganti!

Buku hardcopy atau e-book?

Mungkin bagi beberapa orang keberadaan buku yang secara fisik ada tidak bisa digantikan oleh e-book. Aku mungkin saja termasuk salah satu dari beberapa orang itu. Setelah lama belum belanja buku akhirnya bisa kembali menenggelamkan diri di tumpukan buku, akhirnya sampailah jejak kakiku di Taman Pintar, Jogja.

Dua perasaan beraduk jadi satu sesaat sesampainya di Taman Pintar. Untuk yang pertama adalah perasaan senang, tidak susah mencari sebab rasa senangku: koleks bacaanku otomatis akan bertambah dan berada di tengah-tengah mahasiswa membawa kembali nostalgia masa kuliah, yang kadang kala aku rindukan. Perasaan yang kedua adalah sedih, karena merasa tua di antara mahasiswa. Well, kalimat terakhir abaikan saja.

Initinya, Taman Pintar adalah salah satu alternative tujuan wisata semua umur. Bisa dikunjungi saat weekend atau waktu senggang. Taman Pintar bisa menjadi surge dunia bagi yang suka membaca.

Pribadi, untuk saat ini buku adalah teman di saat menunggu. Sejauh ini belum pernah sempat menyediakan waktu khusu untuk membaca seperti dulu. Saat menunggu itu lah aku sempatkan membaca, menunggu apa saja. Jangan biarkan apa-apa yang tidak bisa kau kerjakan mengganggu apa-apa yang bisa kau kerjakan. Nah buku adalah solusinya. Buku biasa atau e-book? Pilihan masing-masing. Bagiku pribadi, keberadaan buku secara fisik lebih melegakan dan memberikan rasa puas tersendiri.

At last, I’d like to thank to my partner in crime for taking me to this place 🙂

 

Aang Kunaefi

19 Maret 2014

Standar
Travel

Maret 2014: Karena Semua Akan (P)indah pada Waktunya

Untitled-1

Dari Ka-Ki: Mas Adhi, Mas Is, Mas Teguh & Mas Candra

Pertengahan Mei 2013, pertama kali aku menginjakkan kali di Pulau Flores. Sore Sekitar Ba’da Asyar di Bandara Frans Seda, dua orang menungguku. Sebut saya inisialnya Ginanjar Aji Satya Graha, satu lagi dengan nama samaran Adhi Putra Kusyanto. Untuk yang pertama, tawanya mengembang, begitu lepas, ada kebahagiaan yang tak tersembunyi saat menyambut kedatanganku. Entah karena kami sudah lama kenal, atau karena ada perasaan solidaritas, semacam “Ahay! Akhirnya ada juga yang merasakan nasib yang sama denganku, terdampar di daratan asing, jauh dari kampong halaman!”

Teman baruku yang kedua, entah kenapa, setali tiga uang, ketawanya juga begitu lepas, padahal kenal aja belum, ternyata memang ciri khas senyum-senyum kepada semua orang. Dan pada akhirnya Dia jadi partnerku selama kurang lebih 8 bulan di salah satu bagian di Kantor penempatan definitif pertamaku. Well, kesan pertama begitu menggoda! Namanya Adhi Putra Kusyanto, sejauh yang saya kenal selama kurang lebih 8 bulan ini, adalah pribadi yang supel. Tidak menahun bergaul dengannya untuk menjadi akrab. Entah karena sering saling lempar gojlokan terbuka dan saling ngusilin, atau karena yang faktor lain.

***

Selama tinggal di Maumere, aku menempati mess yang tepat berada di jalan Don Thomas. Menurut legenda yang tersohor, lokasinya strategis. Bersebelahan dengan dua pusat perbelanjaan, dekat dengan tempat beribadah. Tapi, menurutku, kestrategisan itu karena kamarku bersebelahan dengan kamar Mas Iskandar. Ah, kenapa tulisan ini mendadak mellow? Sekali-kali tidak apa lah mellow karena cowok, beristri pula. Ha-ha-ha. Mas Iskandar biasa aku panggil Suhu Iskandar (suhu -bahasa hokkian- artinya guru, sefu, master, teacher, pengajar, orang yang dituakan dan dihormati karena punya pengetahuan yang baik panggilan pada Bhikkhu). Suhu Iskandar lahir dan besar di Klaten. Kami berdua, kadang bersama beberapa teman yang lain, sering ngobrol dan membahas Klaten hingga Jogja. Dari sekedar membahas distorsi budaya antardaerah hingga saling adu argumen tentang kota mana yang lebih OK, Probolinggo atau Klaten. Apa pun hasilnya, semua berujung pada tawa. Ada yang menarik dari kebiasaan Mas Is yaitu setiap kali mengirim IP Messanger, SMS dan pesan Whatsapp, pesan yang dikirim hampir selalu berakhiran koma(biasanya ada beberapa koma), bukan titik. Penasaran, suatu ketika aku interogasi kenapa harus koma, bukan titik. Ternyata filosofinya begini: untuk gaya mengirim pesan berupa tulisan yang kasual, koma lebih dipilih karena menghindari kekakuan, artinya dialetika via pesan tidak bersambung sampai di situ, tapi bersifat kontinyu, bersambung. OK, pendapat diterima.

***

“Mari kita kesankan dalam hati, diulangi lagi dan lagi hinga lagi itu tidah ada lagi.”

Mario Teguh (Hariyono)

Teguh Hariyono. Pertama kali tiba di Maumere, saya menggunakan helm Mas Teguh mengarungi kota Maumere, hingga beberapa minggu lamanya. “Epanggawang e, atas pinjaman helmnya”. Salah satu punggawa Seksi RIKI yang satu ini memang rajin mengontrol kinerja pegawai. Bukan hanya di kantor, bahkan hingga urusan sholat berjama’ah pun dia sampai mengobrak-abrik mess. Rasa-rasanya hanya RIKI di KPP 921 yang selain mengontol kepatukan kinerja pegawai di kantor, juga mengontrol kinerja ibadah pegawainya, Subhanallah.

***

Awal bulan Maret 2014, saat musim hujam belum sepenuhnya berlalu, akhirnya cita-cita Mas Candra selama di 3 tahun di Maumere terwujud jua – mendaki Gunung Egon. Sebenarnya kami sudah sejak beberapa bulan yang lalu merencanakan untuk mendaki, namun karena alas an cuaca yang mengancam keselamatan, rencana hanya menguap sebagai wacana belaka. Dan Alhamdulillah, saat pendakian alam sangat bersahabat. Alam ramah seramah saat ke sumber air panas, juga di kawasan Egon, tahun kemarin. Senang bisa mendaki bersama salah satu veteran salah satu pecinta alam dari kampus tercinta! Jangan sungkan-sungkan mengajak jika ada pendakian lagi.

***

25 Februari 2014 harusnya aku ada di tengah-tengah orang di acara lepas pisah Mas Adhi, Mas Iskandar, Mas Teguh dan Mas Candra. Mungkin waktu belum berpihak, karena akhirnya tidak bisa menghadiri acara. Demikian  juga saat melepas Mas Teguh dan Mas Is di Bandara Frans Seda, aku hanya bisa mendoakan dari jauh, dari Jogja.

Akhirnya kita sampai di goresan kenyataan dari setiap perjumpaan, yaitu perpisahan.

Semua akan (p)indah pada waktunya.

Sayonara Mas Adhi, Mas Iskandar, Mas Teguh dan Mas Candra. Semua masih sama. Mungkin ada beberapa nuansa yang tak sama lagi tanpa kalian. Liqo harian yang pesertanya berkurang, Jama’ah Masjid beru & Masjid Waioti yang berkurang, tak ada lagi obrolan dengan Mas Iskandar hingga larut malam di teras kamar, tak ada lagi debat sengit tentang baca’an qolqolah shugroo dan qolqolah subroo -tidak apa karena guru ngajinya mungkin beda, dalam hal ini kadang aku berpihak kepada mas candra-, pekerjaan kantor yang semakin berat karena kantor yang memang kekurangan pegawai ini ditinggal lagi oleh 4 tenaga muda andalan. Tapi tak apa, bukankan yang berat itu berisi, Mas Mas semua?

Aku mohon maaf jika selama ini ada salah, juga aku sudah memaafkan jika ada salah (ok ini agak songong). Ha-ha-ha

Mungkin selama ini ada momen dimana kita merasa tidak nyaman satu yang lain, tapi aku yakin itu tidak ada, kalau pun ada, mari lupakan dan biarkan lewat.

Because good time leaves good memory and bad time leaves good lesson.

Terima kasih untuk semua kebaikan yang telah dilalui bersama. Terima kasih atas buku-bukunya, mas teguh. Terima kasih buat joy-sticknya, Mas Candra. Semoga bisa meotivasiku untuk semakin giat ngegame belajar. Terima kasih Mas Adhi dan Mas Is atas petuah-petuahnya. Sehat selalu.

Maka, seperti kebiasaan Mas Iskandar, tulisan ini tidak saya akhiri dengan titik tapi koma. Karena perpisahan bukan akhir dari segalanya, termasuk silaturahmi. Semoga bertemu lagi di lain kesempatan,,

May this good bye lead us to a new halo,,

Aang Kunaefi

13 Maret 2014

Jalan Don Thomas

Maumere, Flores

*Beberapa dari tulisan ini adalah hasil rekayasa penulis, tapi yakinlah perasaan kehilangan kami sepeninggal kalian tak sedikit pun direkayasa 😀

Standar
Esai

Umbu Landu Paranggi Hingga Eleanor Roosevelt: Tentang Intuisi

Konon suatu pagi yang cerah, di negeri antah-berantah, Nasrudin Hoja membeli seekor keledai kecil di pasar tak jauh dari rumahnya. Saat hendak kembali ke rumahnya, Nasrudin menunggangi keledainya bersama anaknya yang ia pangku di depan. Tak jauh dari pasar, ada segerombolan orang yang meneriakinya.

“Hai Nasrudin, tega sekai kau! Keledai sekecil itu kau biarkan ditunggangi dua orang sekaligus. Dimana perasaanmu?”

“Oh benar juga pendapat orang itu.” Nasrudin lantas turun dari keledainya namun masih membiarkan anaknya tetap menunggangi keledainya. Mungkin ini lebih baik. Tak lama kemudian, segerombolan orang yang lain tertawa melihat kejadian itu.

“Lihatlah orang bodoh itu, ia membeli keledai hanya untuk ditunggangi seorang anak kecil.”

Nasrudin berang, ia tidak terima dikatakan bodoh. Tanpa banyak komentar, ia menurunkan anaknya dari punggung keledai dan ia sendiri yang menunggangi keledainya.

“Begini lebih baik.”  Nasrudi dengan santai menunggangi keledai sedangkan anaknya ia biarkan memegangi tali yang mengikat keledainya. Di persimpangan tak jauh dari rumahnya, ia mendengar segerombolan orang saling berbisik satu dengan yang lain.

“Bapak macam apa dia, membiarkan anaknya jalan kaki sedangkan ia sendiri seenaknya menunggangi keledainya. Cuih!!” Wajah Nasrudin mendadak merah. Ia tak tahan lagi dengan berbagai komentar orang lain, akhirnya ia mengambil keputusan ekstrim sebagai jalan tengah. Ia turun dari punggung keledainya dan ia menggendong keledainya hingga sampai di rumahnya.

Dan Sepanjang perjalanan semua orang menertawainya terpingkal-pingkal.

Cerita dengan modifikasi seperlunya yang saya sampaikan di atas hanyalah analogi terhadap berbagai kemungkinan komentar yang ada di kepala manusia jika kita memutuskan untuk melakukan atau tidak melakukan sesuatu. Jika ada seribu kepala dalam suatu ruangan, maka kemungkinan ada seribu pendapat yang berbeda tentang suatu hal.

Sudah lama saya tinggal di negara “apa kata orang lain” ini, sejak lahir.  Saya sudah lama dididik untuk selalu mempertimbangkan “apa kata orang lain” sebelum melalukan atau tidak melakukan sesuatu, sejak lahir. “Apa kata orang lain” seakan sudah menjadi pembanding, apapun variable-nya. Tidak heran jika setiap akan mengambil keputusan poin pertama yang harus dipertimbangkan adalah “apa kata orang lain”. Hal semacam itu terinternalisasi terus-menerus, dari waktu ke waktu hingga sampai di level: tidak mengenali suara sendiri. Saya tidak sendiri, mungkin saya adalah gambaran dari banyak bangsa timur yang mengalami hal serupa.

Jadi lebih kalau membuat skala prioritas, mana yang lebih tinggi dan didahulukan? Intuisi/suara yang berasal dari diri sendiri atau pendapat orang lain? Mungkin salah satu bait dari puisi ini biasa menjelaskan:

Baca lebih lanjut

Standar
Esai

PERUBAHAN, GAGAL MOVE ON DAN GROWTH MIND

Bernard Shaw dan beberapa filsuf jaman dulu pernah bilang, “Mental yang baik itu dianalogikan seperti seorang penjahit. Setiap kali pelanggan datang menjahitkan baju, saat itu juga penjahit mengambil ukuran badan pelanggan. Tidak peduli berapa sering pelanggan datang.”

Artinya apa? Perubahan itu pasti, yang tidak pasti itu tendensi arah perubahan, bisa ke arah yang lebih baik atau sebaliknya. Perubahan itu tidak bisa ditolak walau pun batin sebisa mungkin menolaknya.Maka biasakanlah diri dengan perubahan. Lantas, kenapa kadang perubahan begitu menakutkan? Jangan salah kaprah dulu, tidak ada yang salah dengan perubahan. Perubahan terasa hampa bahkan menyakitkan jika tidak sesuai dengan harapan, baik harapan yang mungkin kita pendam diam-diam dalam hati atau pun terang-terangan, maka nggak salah juga jika ada istilah “hoping is the best way to get hurt”. Jadi, berharap itu sesuatu yang salah dan harus dihindari? Tidak selalu, kita manusia hidup di antara masa lalu dan harapan. Hari ini tidak ada tanpa masa lalu, jika kita nggak punya harapan buat apa kita hidup? Anak panah tidak akan melesak dari busurnya tanpa sasaran bukan? Sama saja, apa kita benar-benar “hidup” tanpa harapan, target dan keinginan di masa depan. Manusiawi, pasti semua manusia bermimpi dan berharap, bahkan desiran dalam hati bisa menjadi harapan. Kenyatataan bisa saja membuat harapan yang awalnya manis menjadi sangat menyakitkan, maka kita perlu tameng untuk dijadikan sistem pertahanan diri kita agar tidak mudah hancur karena harapan yang dibuat sendiri, tameng itu adalah rasionalitas. Ya, bahkan dalam berharap dan bermimpi pun rasionalitas harus dilibatkan. Tentu setiap anak panah yang dilepas dari busurnya diharapkan akan menemui sasaran bukan? Tapi rasanya hal itu tidak masuk logika jika anak panah dilepaskan dari Jakarta sedangkan sasarannya ada di Surabaya. Lalu, dimana fungsi hati nurani? Melibatkan rasonalitas dalam berharap bukan berarti menghilangkan suara hati, atau orang jaman sekarang biasa menyebutnya “feeling”, perasaan yang yakin akan sesuatu akan terjadi atau tidak, entah dari mana asalnya perasaan itu. Seperti pepatah, biarkan otak yang mempertimbangkan semuanya, tapi biarkan hati yang mengambil keputusan.

Apa yang tidak berubah? Bahkan saat aku mengitik huruf per huruf tulisan ini, sesuatu yang berharga yang sering terlupakan juga berubah, waktu. Setiap kepala mempunyai reaksi yang berbeda dalam menilai setipa perubahan. Mentalitas manusia dibagi menjadi dua macam dalam melihat perubahan, fixed mind dan growth mind. Kalau boleh minjem istilah anak muda generasi saat ini, fixed mind bisa diartikan dengan istilah “gagal move on”, gagal move on di sini tidak selalu berkaitan dengan masalah asmara atau cinta-cintaan ABG jaman sekarang. “Gagal move on” bisa diartikan stagnan, melihat dunia dalam bentuk yang pakem dan sama dari waktu ke waktu, tidak berubah. Misal, jika saya adalah tipe seseorang tipe fixed mind dan ada teman saya pernah melakukan satu kesalahan maka selamanya orang yang bersangkutan salah di mata saya walaupun suatu ketika ia melakukan sesuatu yang benar. Tidak ada jalan keluar lagi bagi teman saya tersebut untuk berbuat benar karena dalam otak saya teman saya tersebut sudah terpaten menjadi orang yang salah. Jika saya melihat seorang berjenggot melakukan pengeboman rakyat sipil, maka semua orang berjenggot mempunyai tendensi menjadi teroris, itu jika saya manusai bertipe mental fixed mind. Demikian juga saat saya menaruh harapan A, B, C, dan bla bla bla terhadap seseorang, dan ternyata saat waktunya tiba semuanya tidak seperti yang saya harapkan, maka saat seperti ini akan muncul gejala-gelaja “gagal move on” tadi. Galau, mengharu biru dan….. ada yang bisa menyebutkan lagi gejala gagal move on?

Sedangkan orang-orang yang bertipe growth mind adalah mereka yang melihat dunia dalam dimensi yang berbeda dari waktu ke waktu, mereka inilah yang dijuluki pemilik mental penjahit oleh Bernard Shaw, seperti istilah di awal tadi. Jika saya tipe orang bermental growth mind, maka tak selamanya saya melihat teman yang pernah membuat salah akan selamanya salah. Saya melihat dunia bergerak dinamis, melihat orang lain berubah dari waktu ke waktu.

Jadi, salahkah aku jika aku tidak seperti diriku yang dulu?

Lupakan, yang terakhir itu hanya pertanyaan retorikal. Semoga bermanfaat dan selamat ber-akhir pekan 

Aang Kunaefi

18 Januari 2013

Probolinggo

Standar
Esai

THOMAS ALVA EDISON DAN MAHATMA GANDHI TENTANG SUKSES

Konon, dahulu kala Thomas Alva Edison menolak dan tidak percaya jika dirinya dikatakan pernah gagal. Sebelum berhasil menemukan bolam lampu, dia harus melakukan ratusan bahkan ribuan, entah berapa angka validnya saya juga kurang tahu, ekperimen sebelum berhasil menemukan formula yang tepat. Konon, dulu orang-orang menganggap ilmuwan yang drop out (DO) dari sekolah ini agak kurang realistis karena “kegagalan” ratusan atau ribuan eksperimennya. Mungkin kalau saya sih, nyumpahin orang-orang itu, kemudian berhenti bereksperimen karena ga kuat juga dikatain kurang realistis, kurang waras. Itu jika saya di posisinya dia. Namun, reaksi Thomas Alva Edison ini memang luar biasa, dalam benak saya mungkin dulu waktu orang lain mengatakan dia konyol dengan eksperimennya Pak Thomas ini nyengir sambil bilang, “Bro, saya bukan gagal. Itu salah satu kesuksesan saya dalam dalam menemukan salah satu cara yang salah untuk dalam membuat bolam lampu.”

Baca lebih lanjut

Standar
Esai

Jangan pernah memainkan peran orang lain jika memainkan peranmu sendiri saja masih tidak becus

“Kasian ya dirimu, selama hidupmu prosentase untuk mengeluh jauh lebih banyak daripada mensyukuri apa yang kamu punya. Semua orang tahu hidupmu jauh dari sempurna, aku pun tahu itu, tapi apa kamu tahu bahwa kesempurnaan di dunia ini fana kecuali milik Satu Yang Di Atas sana? Kalau kamu tahu, lantas kenapa masih menuntut kesempurnaan dengan usahamu yang sekedarnya?”

“Terus saja membandingkan dirimu dengan orang lain, asal betah saja hidup di bawah bayang-bayang orang lain. Wajar ketika melihat orang lain seolah-olah mereka jauh lebih beruntung dari dirimu, tapi kurang wajar jika penilaianmu bersifat parsial. Mungkin kamu melihat hijau subur ladang tetanggamu, tapi apa kamu pernah sadar kerja keras tetanggamu merawat ladangnya sebelum ladang yang kamu lihat sekarang hijau subur? Apakah mereka yang kamu pikir mereka yang serba lebih itu beruntung? Jawabannya ‘YA’ dan kamu pun bisa seberuntung mereka, kenapa? karena semakin kamu bekerja keras maka semakin dekat keberuntungan itu dengan dirimu, sama seperti yang mereka lakukan.”

“Setiap waktu dirimu selalu menggunakan jurus ‘seandainya…’ saat untuk menutupi kelemahanmu yang justru membuat dirimu jauh terlihat lebih lemah di depan matamu sendiri, mungkin kamu bisa menyembunyikannya dari orang lain, tapi alasan pembenaranmu itu membunuh karaktermu semakin hari. Ya kamu sadar benar akan itu, tapi ketakutan untuk berubahlah yang menghambatmu selama ini. Apakah ini yang kamu nikmati selama ini?”

Baca lebih lanjut

Standar