Esai

Cinta [1]

Cinta. Tidak jarang hanya terselip di dalam dada, tersembunyi pada lapis yang ketujuh. Pada lapis-lapis itu ibarat tirai yang harus kita sibak helai demi helai. Semua barang mahal belum pernah ada dalam sejarah yang berceceran di pinggir jalan. Bahkan mutiara pun tersembunyi di kedalaman samudra, tidak jarang untuk mendapatkannya, Engkau harus memiliki perahu, harus melawan gelombang, harus menyelam, harus melawan semua kemungkinan bahaya yang mungkin kau temui.

Wahyu sejak dulu sama. Hujan sejak dulu sama, sebagaimana api, sebagaimana cinta. Menukil analogi Rumi: Seratus lilin yang kau nyalakan, panasnya api yang pertama akan sama dengan panasnya api yang terakhir. Cinta tidak akan pernah hilang. Kebenaran tidak akan musnah. Hanya kepalsuan yang temporal dan akan musnah. Lihatlah Fir’aun, lihatlah Raja Namrud, lihatlah Abu Jahal, lihatlah Hitler……….atau lihatlah diri kita sendiri.

Jl. Don Thomas, 05 September 2015
Jam 2 Pagi WITA, Ba’da menyimak jalan cerita “kemajnunan” cinta Qais pada Laila

Standar
Esai, Sepetak Sawah

Memberi dan Menerima

Dalam hidup, baik dalam skala kecil yaitu pribadi diri sendiri, keluarga, hingga skala yang lebih besar, negara misalnya, Tuhan menciptakan setiap bagian untuk saling berinteraksi dalam rangka saling melengkapi agar semua bisa berjalan sebagaimana mestinya, sebagaimana yang seharusnya. Maka dalam interaksi itu harus muncul transaksi memberi dan menerima.

 ***

 

~ Memberi ~

Orang yang dermawan, suka memberi, suka berbagi dengan yang membutuhkan hampir selalu diposisikan sebagai orang yang seolah-olah memiliki derajat yang lebih tinggi dibanding orang yang menerima. Maka kemudian banyak orang menjadi demawan, menjadi suka berbagi, menjadi suka memberi agar dipandang sebagai orang yang memiliki derajat lebih tinggi dibanding yang lain, hingga dalam hatinya diam-diam ia merasa lebih keren sedikit dibanding yang lain. Dan kenungkinan jumlah orang-orang yang mendadak dermawan ini akan meningkat tajam menjelang pemilu, pilkada maupun pemilihan atau perebutan kursi panas yang lain. (?)

Dalam memberi terkandung banyak manfaat, memberi hanya akan mendatangkan mudharat jika dibarengi dengan sifat riya’, ke-ge-er-an, merasa menjadi pahlawan dengan pemberiannya, merasa mengungguli orang atau pihak yang ia beri. Dalam aspek keagamaan memberi menjadi salah satu pemerataan kekuatan ekonomi, ya karena alasan itu maka diwajibkanlah zakat yang merupakan salah satu rukun Islam. Dalam aspek kenegaraan, memberi juga bentuk sumbangsih rakyatnya guna membangun negaranya sejak dahulu kala, maka diwajibkanlah warganya yang berpenghasilan lebih untuk membangun semua sarana untuk digunakan bersama, termasuk sarana yang kemudian digunakan termasuk orang yang kekurangan yang notabene penghasilannya masih dibawah batas penghasilan dikenai pajak.

Mungkin memang demikian dialetika Tuhan, dalam bahasa yang lebih sederhana, memberi bisa berarti membantu yang lain dengan subsidi dari yang mempunyai penghasilan dan rezeki lebih, membebaskan mereka yang kesulitan dan ini hanya dilakukan orang yang mempunyai kelapangan hati.

Konon, Rosulullah pernah bersabda, “Tangan yang di atas lebih baik dibanding tangan yang di bawah”. Dari hadis Nabi itu kemudian kita bisa berbondong-bondong memberikan penafsiran bahwa orang yang memberi kedudukannya lebih baik dari mereka yang menerima. Tanpa sadar kita bisa terjerumus dalam dua variabel tersebut tanpa memperhitungkan variabel yang lain dalam dialetika hadis tersebut. Siapa tahu Belaiu ingin menggiring kita ke variabel yang lain dalam dialetika tersebut, mungkin variabel itu perspektif Tuhan terhadap kita. Siapa tahu.

Ya, siapa tahu Beliau mau ngingetin kita, janganlah kamu menjadi miskin atau fakir hingga kamu meminta-minta selain kepada Tuhan yang pada akhirnya menggiringmu kepada kekufuran. Untuk mencegah hal itu, maka jadilah kamu yang memberi, jadilah kamu yang dermawan, jadilah kamu orang yang mencegah orang meminta selain kepada Tuhannya. Maka dengan demikian diam-diam secara tak sengaja kamu sudah mengimplementasikan ayat Iyyakana’budu wa iyya kanasta’in. Maka memberi sebelum diminta itu top. Bagaimana dengan menerima?

***

 

~ Menerima~

Jika berbicara konteks memberi, maka jelas bahwa maoritas yang memberi mempunyai kelapangan yang lebih, mempunyai rezeki yang lebih, mempunyai power yang lebih dibanding yang diberi. Ya walaupun mayoritas itu tidak berarti semuanya karena ada juga  secara materi tidak cukup-cukup amat, secara kedudukan tidak begitu powerful, dan hidupnya tidak lapang-lapang amat, tapi meka juga mau dan ikhlas memberi. Jadi mereka memberi bukan karena kehidupannya serba berlebih, akan tetapi mereka tahu dan pernah merasakan hidup tidak berkecukupan. Ini orang yang lebih top lagi.

Jadi kita boleh menauladani jika ada orang yang berlebih secara materi, secara kedudukan powerful, dan kehidupannya secara total lapang, yang sangat dermawan, bisa membuka lapangan pekerjaan yang luas, seluas rejeki orang yang membutuhkan,  namun tidak perlu terlalu heran dan gumun. Alhamdulillah mereka sudah menunaikan kewajibannya sebagai khalifah, sebagai duta tuhan untuk menyampaikan rahmat-Nya kepada sesama.

Tapi ngomong-ngomong, mungkin kita terbiasa dengan memberi, mungkin kita begitu mudah ikhlas saat memberi, tapi pernah ga kita bertanya kepada diri sendiri, bisa ndak kita ikhlas? Bisa ndak kita “menerima” semua takdir Tuhan?

Maksudnya gini, jika direfleksikan ke dalam, ke diri kita sendiri, kecenderungannya kita mau dan siap menjadi orang kaya yang dermawan, mau dan siap menjadi pemimpin yang membantu kesulitan-kesulitan anak buahnya atau rakyatnya, mau dan siap menjadi pengusaha yang memberikan lapangan rezeki kepada orang-orang yang membutuhkan. Insyaallah kecenderungan kita mau, siap dan ikhlas.

Tapi bisa ndak kita menerima jika Tuhan menakdir kita hidup tidak sekebercukupan orang lain di sekitar kita? Bisa ndak kita menerima jika hidup kita dilanda kesusahan? Bisa ndak kita menerima saat ditakdirkan menjadi orang yang tanpa pangkat? Konklusinya, kira-kira bisa ndak kita menerima takdir Tuhan ketika takdir itu mungkin tidak selaras dengan harapan kita?

Pernah ndak kita meminta kedudukan yang lebih tinggi, saat doa diistijabah kita diam-diam ngedumel tidak terima, tidak ikhlas, tidak ridho dengan pekerjaan yang lebih lebih banyak dari biasanya. (?)

Jadi kadang-kadang orang yang bisa ikhlas memberi belum tentu ikhlas menerima. Mungkin saja. Dan tidak menutup kemungkinan orang yang pandai menerima mempunyai mental dan dialetika lebih romantis terhadap Yang Menciptakannya.

Karena tidak semua bisa dan mampu “menerima” ketentuan Tuhan terhadap kita. Tidak semua bisa “menerima” kemelaratan yang Tuhan ujikan kepada kita.

 ***

~ Memberi vs menerima? ~

Jadi memberi atau menerima itu adalah alat dalam konteks memaknai dialetika dalam hidup ini. Namanya juga alat, tergantung yang menggunakan mau digunakan untuk tujuan apa. Maksudnya begini, jangan sampai dengan memberi kita merasa lebih baik dari yang menerima, itu sama saja diam-diam kita menghinakan orang lain. Sama halnya dengan sholat, jangan sampai sholat kita menggiring kita untuk mengejek orang yang belum solat hingga melukai perasaan orang lain, karena pada dasarnya jihat itu mengajak bukan memaksa apalagi sampai menghina. Sama halnya juga dengan menikah, jangan sampai nilai ibadah dalam pernikahan hilang hanya karena pernikahan dijadilan alat untuk mengejek mereka yang belum menikah. Jangan sampai haji kita tidak mabrur hanya karena setelah haji kita merasa lebih suci dari orang lain yang belum bisa dan belum mampu melaksanakan haji. Dan kerangka seperti ini bisa diaplikasikan ke variable-variabel lain.

Memberi atau menerima, jangan-jangan itu bahasa romantis Tuhan untuk menguji kemurnian hati kita, manusia? Siapa tahu.

@aang_kunaefi

Maumere, 29 Mei 2015

Standar
Esai

YOUR INTUITION OR YOUR EGO?

Beberapa orang memang tidak akan percaya panasnya api hingga ia suatu saat mungkin terbakar dan merasakan sendiri.
Beberapa orang juga tidak akan percaya dalamnya jurang hingga ia terjatuh ke dalamnya.
Beberapa orang juga tidak akan percaya dalamnya samudera hingga ia tenggelam dan mungkin saja tak akan kembali.

Segigih apapun kamu menasehati, sekuat apapun kamu memberi tahu, sekeras apapun kamu melarang, mungkin ia tidak akan mendengarmu. Jika hingga level ini semua nasehatmu, semua larangan yang kamu sampaikan tidak ditampung, tidak digubris. Mungkin sudah saatnya menyerahkan semua kepada Zat yang membolak-balikkan hati.

Bukan salahmu jika nasehatmu, semua saranmu tidak didengar, karena setiap manusia tidak hanya dianugerahi hati kecil, tetapi juga ego, keakuannya.
Adalah kesalahanmu jika kamu tidak melakukan apa-apa untuk merubahnya, untuk mencegah hal yg tudak diinginkan terjadi.

Man Proposes, God disposes!

Kewajiban kita adalah berusaha, Hasil adalah mutlak wilayah Tuhan.

If you feel you’ve done the best, then let God do the rest.

Don Thomas, Maumere.
21 Oktober 2014
23.25 WITA

Standar
Esai

Rumah

Sejak hidup jauh dari rumah, sering muncul momen-momen memikirkan rumah. Entah hanya sekedar kangen rumah, merasa berada di rumah di tempat yang baru; atau vice versa, merasa tidak di rumah di tempat yang baru. Sejujurnya apa rumah itu?

Rumah. Ya, rumah bukan sekedar bangunan (a house). Rumah bukan sekedar tempat untuk berlindung, makan, tidur dan melakukan rutinitas lainnya – semua orang sudah mengerti tentang konsep ini.

A house is not always a home. Jadi, apa bedanya?

Jika kamu bilang “aku kangen rumah”, benar yang kamu rindukan hanya fisik gedung yang dulu atau saat ini masih kamu tampati? It’s A BIG NO.

Jadi, rumah itu ya bisa bangunan itu sendiri, Ibu, Ayah, Kakak, Adik – semua orang yang kita sayangi. Rumah bisa juga berarti gudang tanpa batas yang menyimpan kenangan masa lalu, rumah adalah simbol keteduhan dalam perlindungan keluarga, bagai pohon tua yang rimbun yang meneduhkan siapa saja yang berada di bawahnya – home is where my heart belong to.

Yes, home is more than finacial assets. Every home has deep emotional meaning.

Rumah lah yang membuat hati damai, kerasan dan menyembuhkan dari segala hiruk-pikuk kesibukan dunia. My home is a place where I close the door the door on chaos dan find some kind of cosmos.

Jadi, ga perlu heran jika banyak orang mengorbankan banya hal hanya untuk pulang. Setelah sekian lama jauh dari nuansa rumah, setelah sekian lama bergelut dengan berbagai rutinitas kerja dan problematika yang menyertainya, manusia perlu pulang ke rumah untuk mengendapkan semuanya pengalaman pribadi. Me included.

Ya, pada akhirnya rumah tidak selalu gedung. Rumah bisa berupa kenangan masa kecil yang masih hidup di kampuang halaman, rumah bisa berupa baru tanah kemarau yang menyeruak ketika dibasahi hujan pertama di setelah kemarau panjang. Rumah bisa berupa orang-orang tersayang yang tidak pernah bosan memberi payung keteduhan, penghormatan tanpa batas. Rumah bisa berupa orang-orang yang selalu membuat kita tidak merasa asing, tidak merasa sendiri. Mirip seperti yang diilustrasikan Billy Joel;

 

“Well, I’ll never be a stranger and I’ll never be alone. Whenever we’re together, that’s my home.”

[You’re my home/Billy Joel]

 

 

Don Thomas, Maumere.

20072014

Post Script: Tulisan ini agak sentimentil, karena ketika menulis rasa kangen rumah tidak bisa dipisahkan dari konten tulisan ini

Standar
Esai

Umbu Landu Paranggi Hingga Eleanor Roosevelt: Tentang Intuisi

Konon suatu pagi yang cerah, di negeri antah-berantah, Nasrudin Hoja membeli seekor keledai kecil di pasar tak jauh dari rumahnya. Saat hendak kembali ke rumahnya, Nasrudin menunggangi keledainya bersama anaknya yang ia pangku di depan. Tak jauh dari pasar, ada segerombolan orang yang meneriakinya.

“Hai Nasrudin, tega sekai kau! Keledai sekecil itu kau biarkan ditunggangi dua orang sekaligus. Dimana perasaanmu?”

“Oh benar juga pendapat orang itu.” Nasrudin lantas turun dari keledainya namun masih membiarkan anaknya tetap menunggangi keledainya. Mungkin ini lebih baik. Tak lama kemudian, segerombolan orang yang lain tertawa melihat kejadian itu.

“Lihatlah orang bodoh itu, ia membeli keledai hanya untuk ditunggangi seorang anak kecil.”

Nasrudin berang, ia tidak terima dikatakan bodoh. Tanpa banyak komentar, ia menurunkan anaknya dari punggung keledai dan ia sendiri yang menunggangi keledainya.

“Begini lebih baik.”  Nasrudi dengan santai menunggangi keledai sedangkan anaknya ia biarkan memegangi tali yang mengikat keledainya. Di persimpangan tak jauh dari rumahnya, ia mendengar segerombolan orang saling berbisik satu dengan yang lain.

“Bapak macam apa dia, membiarkan anaknya jalan kaki sedangkan ia sendiri seenaknya menunggangi keledainya. Cuih!!” Wajah Nasrudin mendadak merah. Ia tak tahan lagi dengan berbagai komentar orang lain, akhirnya ia mengambil keputusan ekstrim sebagai jalan tengah. Ia turun dari punggung keledainya dan ia menggendong keledainya hingga sampai di rumahnya.

Dan Sepanjang perjalanan semua orang menertawainya terpingkal-pingkal.

Cerita dengan modifikasi seperlunya yang saya sampaikan di atas hanyalah analogi terhadap berbagai kemungkinan komentar yang ada di kepala manusia jika kita memutuskan untuk melakukan atau tidak melakukan sesuatu. Jika ada seribu kepala dalam suatu ruangan, maka kemungkinan ada seribu pendapat yang berbeda tentang suatu hal.

Sudah lama saya tinggal di negara “apa kata orang lain” ini, sejak lahir.  Saya sudah lama dididik untuk selalu mempertimbangkan “apa kata orang lain” sebelum melalukan atau tidak melakukan sesuatu, sejak lahir. “Apa kata orang lain” seakan sudah menjadi pembanding, apapun variable-nya. Tidak heran jika setiap akan mengambil keputusan poin pertama yang harus dipertimbangkan adalah “apa kata orang lain”. Hal semacam itu terinternalisasi terus-menerus, dari waktu ke waktu hingga sampai di level: tidak mengenali suara sendiri. Saya tidak sendiri, mungkin saya adalah gambaran dari banyak bangsa timur yang mengalami hal serupa.

Jadi lebih kalau membuat skala prioritas, mana yang lebih tinggi dan didahulukan? Intuisi/suara yang berasal dari diri sendiri atau pendapat orang lain? Mungkin salah satu bait dari puisi ini biasa menjelaskan:

Baca lebih lanjut

Standar
Esai

PERUBAHAN, GAGAL MOVE ON DAN GROWTH MIND

Bernard Shaw dan beberapa filsuf jaman dulu pernah bilang, “Mental yang baik itu dianalogikan seperti seorang penjahit. Setiap kali pelanggan datang menjahitkan baju, saat itu juga penjahit mengambil ukuran badan pelanggan. Tidak peduli berapa sering pelanggan datang.”

Artinya apa? Perubahan itu pasti, yang tidak pasti itu tendensi arah perubahan, bisa ke arah yang lebih baik atau sebaliknya. Perubahan itu tidak bisa ditolak walau pun batin sebisa mungkin menolaknya.Maka biasakanlah diri dengan perubahan. Lantas, kenapa kadang perubahan begitu menakutkan? Jangan salah kaprah dulu, tidak ada yang salah dengan perubahan. Perubahan terasa hampa bahkan menyakitkan jika tidak sesuai dengan harapan, baik harapan yang mungkin kita pendam diam-diam dalam hati atau pun terang-terangan, maka nggak salah juga jika ada istilah “hoping is the best way to get hurt”. Jadi, berharap itu sesuatu yang salah dan harus dihindari? Tidak selalu, kita manusia hidup di antara masa lalu dan harapan. Hari ini tidak ada tanpa masa lalu, jika kita nggak punya harapan buat apa kita hidup? Anak panah tidak akan melesak dari busurnya tanpa sasaran bukan? Sama saja, apa kita benar-benar “hidup” tanpa harapan, target dan keinginan di masa depan. Manusiawi, pasti semua manusia bermimpi dan berharap, bahkan desiran dalam hati bisa menjadi harapan. Kenyatataan bisa saja membuat harapan yang awalnya manis menjadi sangat menyakitkan, maka kita perlu tameng untuk dijadikan sistem pertahanan diri kita agar tidak mudah hancur karena harapan yang dibuat sendiri, tameng itu adalah rasionalitas. Ya, bahkan dalam berharap dan bermimpi pun rasionalitas harus dilibatkan. Tentu setiap anak panah yang dilepas dari busurnya diharapkan akan menemui sasaran bukan? Tapi rasanya hal itu tidak masuk logika jika anak panah dilepaskan dari Jakarta sedangkan sasarannya ada di Surabaya. Lalu, dimana fungsi hati nurani? Melibatkan rasonalitas dalam berharap bukan berarti menghilangkan suara hati, atau orang jaman sekarang biasa menyebutnya “feeling”, perasaan yang yakin akan sesuatu akan terjadi atau tidak, entah dari mana asalnya perasaan itu. Seperti pepatah, biarkan otak yang mempertimbangkan semuanya, tapi biarkan hati yang mengambil keputusan.

Apa yang tidak berubah? Bahkan saat aku mengitik huruf per huruf tulisan ini, sesuatu yang berharga yang sering terlupakan juga berubah, waktu. Setiap kepala mempunyai reaksi yang berbeda dalam menilai setipa perubahan. Mentalitas manusia dibagi menjadi dua macam dalam melihat perubahan, fixed mind dan growth mind. Kalau boleh minjem istilah anak muda generasi saat ini, fixed mind bisa diartikan dengan istilah “gagal move on”, gagal move on di sini tidak selalu berkaitan dengan masalah asmara atau cinta-cintaan ABG jaman sekarang. “Gagal move on” bisa diartikan stagnan, melihat dunia dalam bentuk yang pakem dan sama dari waktu ke waktu, tidak berubah. Misal, jika saya adalah tipe seseorang tipe fixed mind dan ada teman saya pernah melakukan satu kesalahan maka selamanya orang yang bersangkutan salah di mata saya walaupun suatu ketika ia melakukan sesuatu yang benar. Tidak ada jalan keluar lagi bagi teman saya tersebut untuk berbuat benar karena dalam otak saya teman saya tersebut sudah terpaten menjadi orang yang salah. Jika saya melihat seorang berjenggot melakukan pengeboman rakyat sipil, maka semua orang berjenggot mempunyai tendensi menjadi teroris, itu jika saya manusai bertipe mental fixed mind. Demikian juga saat saya menaruh harapan A, B, C, dan bla bla bla terhadap seseorang, dan ternyata saat waktunya tiba semuanya tidak seperti yang saya harapkan, maka saat seperti ini akan muncul gejala-gelaja “gagal move on” tadi. Galau, mengharu biru dan….. ada yang bisa menyebutkan lagi gejala gagal move on?

Sedangkan orang-orang yang bertipe growth mind adalah mereka yang melihat dunia dalam dimensi yang berbeda dari waktu ke waktu, mereka inilah yang dijuluki pemilik mental penjahit oleh Bernard Shaw, seperti istilah di awal tadi. Jika saya tipe orang bermental growth mind, maka tak selamanya saya melihat teman yang pernah membuat salah akan selamanya salah. Saya melihat dunia bergerak dinamis, melihat orang lain berubah dari waktu ke waktu.

Jadi, salahkah aku jika aku tidak seperti diriku yang dulu?

Lupakan, yang terakhir itu hanya pertanyaan retorikal. Semoga bermanfaat dan selamat ber-akhir pekan 

Aang Kunaefi

18 Januari 2013

Probolinggo

Standar
Esai

THOMAS ALVA EDISON DAN MAHATMA GANDHI TENTANG SUKSES

Konon, dahulu kala Thomas Alva Edison menolak dan tidak percaya jika dirinya dikatakan pernah gagal. Sebelum berhasil menemukan bolam lampu, dia harus melakukan ratusan bahkan ribuan, entah berapa angka validnya saya juga kurang tahu, ekperimen sebelum berhasil menemukan formula yang tepat. Konon, dulu orang-orang menganggap ilmuwan yang drop out (DO) dari sekolah ini agak kurang realistis karena “kegagalan” ratusan atau ribuan eksperimennya. Mungkin kalau saya sih, nyumpahin orang-orang itu, kemudian berhenti bereksperimen karena ga kuat juga dikatain kurang realistis, kurang waras. Itu jika saya di posisinya dia. Namun, reaksi Thomas Alva Edison ini memang luar biasa, dalam benak saya mungkin dulu waktu orang lain mengatakan dia konyol dengan eksperimennya Pak Thomas ini nyengir sambil bilang, “Bro, saya bukan gagal. Itu salah satu kesuksesan saya dalam dalam menemukan salah satu cara yang salah untuk dalam membuat bolam lampu.”

Baca lebih lanjut

Standar