Travel

Waiterang, Lil’ Bay Of Amazing Coral Reef

Tidak perlu bingung untuk mencari tempat snorkling di Maumere, tinggal cari bibir pantai, pakai fin, mask dan snorkel, kemudian nyebur! Tidak perlu repot-repot berenang sampai ke tengah laut, bahkan di sepanjang pantai kota Maumere pemandangan underwaternya sudah cukup menghibur. Setidaknya itu yang aku rasakan saat pertama kali menginjakkan kaki di Maumere, hampir tiga tahun yang lalu. Dan perasaan semacam itu, saya yakin, tidak ada yang menyuangkal, apalagi bagi bereka yang pertama kali ke Maumere. Manise!

Tapi aku harus mengakui, tiga tahun yang lalu bukanlah saat ini. Kerusakan terumbu karang tidak secepat pertumbuhannya. Bom ikan mungkin salah satu faktor kerusakan terumbu karang di sekitar Kota Maumere. Terakhir snorkeling di sana adalah saat melepas salah satu sahabat, tanggal 08 September 2015. Keadaannya sangat kontras. Maka hari sabtu kemarin, tanggal 03 Oktober 2015, Aku, Komenk, Wisnu dan Anom mencari spot diving baru. Kali ini ke arah Waiterang, 30 menit dari pusat Kota Maumere, beberapa menit sebelum Talibura.

Dan di sini lah keindahan-keindahan yang Tuhan rentangkan di bumi kami temukan, salah satunya di waiterang.

Waiterang Highligh

Waiterang mengingatkanku kepada Bule asal Italia, Fabio dan dua orang temannya yang berasal dari Kanada. Sekitar akhir tahun 2014 ketiga bule itu kebetulan nebeng mobil kami dari Ende ke Maumere. Saat aku tanya kemana tujuan akhirnya, di sini lah jawabannya, diving di ankermi lebih tepatnya.

Selama cuaca tidak mendung atau hujan, tidak ada waktu tertentu untuk mendapatkan pemandangan yang menawan, dari pagi hingga sore bisa! Namun jika berbicara waktu paling sempurna, pagi kira-kira jam 6.30 s.d 08.00 WITA. Cahaya pagi memberikan efek semangat! Terang jernih, memungkinkan mata menikmati pemandangan bawah laut dengan jarak pandang lebih luas.

Masih tentang timing snorkeling, the second best time for snorkeling is before sunset. Sebenarnya pemilihan waktu snorkeling pagi maupun sore tidak bisa dibuat komparasi karena masing-masing memberikan nuansa yang berbeda. Jika cahaya matahari memberikan nuansa semangat, bergairah dll dengan cahaya terangnya, maka di sore hari memberi nuansa yang sedikit berbeda. Dengan temaran cahaya matahari yang keemasan, snorkeling di sore hari memberikan kesan meneduhkan, cukup untuk menjadikan pengantar tidur malam yang indah.

Yap! Kejenuhan dengan rutinitas kerja kadang menuntun langkah kaki kita ke tempat-tempat yang bisa me-release dan merubah energi negatif menjadi energi positif, tempat ini salah satunya. By the way, ikan-ikan kecil berwarna biru terang ini tidak hanya tinggal berkoloni di Pantai Waioti dan Beru saja, di Waiterang juga lho. Awesome!!

Waiterang merupakan teluk dengan lekukan yang tidak begitu menjorok ke daratan, diapit oleh Kota Maumere, merupakan pantai utara Pulau Flores.

Letak geografis yang demikian, banyak biota laut hidup di pantai ini. Berbagai jenis ikan, bebagai jenis karang. Anehnya! Ikan di sini agak jinak, bisa didekati hingga jarak satu sampai dua meter. Asal tidak ditangkap loh ya..

Tidak seperti di Pantai Waioti atau Beru dengan karangnya yang menyebar luas, pada dasarnya sebagian besar pantai di Wawiterang berpasir, hanya ada beberapa tempat sekumpulan coral hidup yang tidak seluas di Waioti maupun Beru, tapi padat biota, ikan maupun hewan lainnya. Kalau pinjem analogi Anom, Spot yang kita datangi di Waiterang ini seperi Singapura, Kecil tapi padat. Nice analogy.

Ya oke lah seperti Singapura. Tapi ada yang mengganjal di dada kami kalau Singapura analoginya. Apa itu? I’ll elaborate it soon, just before I end this post.

Seperti karang pada umumnya, spot ini menjadi lokasi favorit bagi hewan laut untuk berkembang biak, bertempat tinggal, ber-hang-out ria, entah ngapain aja hewan-hewan ini.

Setiap spot mempunyai karakter coral masing-masing, demikian juga dengan hewan-hewan laut yang menjadikannya habitat mereka. Di spot ini, kami juga menemukan keanehan. Udah tau keanehannya dari gambar ini?

Udah keliatan sosok yang bersembunyi di balik coral ini? Belum. Oke, mari saya tunjukkan.

Dan akhirnya sosok itu mau juga keluar dari persembunyiannya. Membanggakan bentuknya. Anyway ada yang tau ini ikan apa? Clown fish? No. Lion fish? Apalagi! Aku menduga ini albino clownfish. Eh ga tau juga nih, tanya Anom yang kemungkinan besar juga ga tau.

Dimana ada koral, di situ ada ikan. Dimana ada ikan, di situ ada nelayan. Sebenarnya bukan nelayanya yang membuat resah selama ini, tapi bom ikan yang membuat resah selama ini. Bom ikan itu mesusak koral, merusak rumah ikan, merusak masa depan anak-cucu nelayan juga.

Another beautiful creature made by God. Lion fish. Tuhan Maha Adil, di balik keindahan lionfish tersimpan racun (venom, bukan poison), tepatnya di siripnya yang merentang lebar dan gagah.

Jadi, jangan sekali-kali menyentuh hewan ini jika belum paham betul cara memegangnya. Lionfish biasanya hidup di karang-karang. Jarang bergerak, dan bertahan di suatu tempat begitu lama. Jadi, hati-hati jika bertemu ikan ini. Jangan terhanyut dengan kecantikannya!

Jadi dengan elaborasi sepanjang ini, karang bukan hanya pajangan yang menghiasi lautan, lebih dari itu semua, karang adalah kehidupan bagi mayoritas hewan laut. Jaga baik-baik buat anak cucu kita.

Koral bagai sebuah kota bagi beberapa hewan laut, seperti kota bagi manusia!

Secantik apapun koral, jangan pernah mengambilnya dari tempatnya. Selucu apapun koralnya, jangan pernah mencabut hingga akarnya. Mari kita jaga agar anak cucu kita kelak masih bisa menikmati keindahan dan kelucuannya. Ahay!

Ada yang salah dengan Gambar ini? Yep! Trash. Sampah. Sebenarnya tidak ada yang salah dengan sampah, kalau dibuang pada tempatnya, tempat sampah. Tapi kalau di batu koral seperti ini?

Jadi masih ingat kenapa saya tidak setuju dengan analogi bahwa spot di Waiterang ini bagaikan Negara Singapura? Mungkin benar! Singapura sempit dan padat, mirip dengan gugusan Koral di sini. Tapi ada yang membedakan keduanya. Sampah!

Sampah dari berbagai penjuru pantai di Kabupaten Sikka masuk ke Waiterang, maklum teluk. Selain tidak sedap dipandang mata, sampah ini mengganggu habitat mereka yang tinggal di pantai ini. Jadi, simpan sampah kalian, buang di tempat yang semestinya. Banyaknya sampah merepresentasikan ketidakdewasaan kita menghadapi kemajuan jaman.

Semua orang masih ingin gerenari penerus menyaksikan Keindahan-keindahan yang Tuhan tebarkan di muka bumi, bukan? Jadi jauhkan bom ikan, amankan sampah kalian. Mau lihat komparasi Coral reef yang baik dengan yang sudah rusak? Well, Come along. Let me lead the way…

Ini adalah salah satu spot yang Batu Karangnya sudah mulai hancur. Begitu Kontras? Iya. Ini hanya berjarak beberapa puluh meter dari spot yang Tadi. Ironis? Sangat!

Dari hasil ngobrol-ngobrol Komenk dengan masyarakat sekitar, dulu, beberapa tahun yang lalu. Spot ini masih bagus, banyak dikunjungi wisatawan asing yang ingin menikmati pemandangan bawah laut lokasi ini. Iya, itu dulu. Saat bom ikan belum menghancurkan tempat ini.

Sekian lama Tuhan menyediakan banyak hal kepada kita melaui alam ini, jagalah baik-baik alam sebagi rasa syukur kita atas Kenikmatan yang Ia berikan. Rawatlah alam sebagai mana mereka merawat penduduk bumi selama ini. Cintai alam sebagai manifestasi kita kelak di masa yang akan datang.

Last but not least. Salam damai dari Kami. Buat yang mau berkunjung ke tempat ini, jangan lupa membawa kantong sampah. Menyempatkan beberapa menit sebelum atau susudah snorkeling buat bersih-bersih pantai juga oke loh. ……..Heal the world, make it a beeter place…..

Credit to:

Komenk, Anom, and Wisnu.

Iklan
Standar

4 thoughts on “Waiterang, Lil’ Bay Of Amazing Coral Reef

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s