Esai

Cinta [1]

Cinta. Tidak jarang hanya terselip di dalam dada, tersembunyi pada lapis yang ketujuh. Pada lapis-lapis itu ibarat tirai yang harus kita sibak helai demi helai. Semua barang mahal belum pernah ada dalam sejarah yang berceceran di pinggir jalan. Bahkan mutiara pun tersembunyi di kedalaman samudra, tidak jarang untuk mendapatkannya, Engkau harus memiliki perahu, harus melawan gelombang, harus menyelam, harus melawan semua kemungkinan bahaya yang mungkin kau temui.

Wahyu sejak dulu sama. Hujan sejak dulu sama, sebagaimana api, sebagaimana cinta. Menukil analogi Rumi: Seratus lilin yang kau nyalakan, panasnya api yang pertama akan sama dengan panasnya api yang terakhir. Cinta tidak akan pernah hilang. Kebenaran tidak akan musnah. Hanya kepalsuan yang temporal dan akan musnah. Lihatlah Fir’aun, lihatlah Raja Namrud, lihatlah Abu Jahal, lihatlah Hitler……….atau lihatlah diri kita sendiri.

Jl. Don Thomas, 05 September 2015
Jam 2 Pagi WITA, Ba’da menyimak jalan cerita “kemajnunan” cinta Qais pada Laila

Iklan
Standar

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s