Esai

PERUBAHAN, GAGAL MOVE ON DAN GROWTH MIND

Bernard Shaw dan beberapa filsuf jaman dulu pernah bilang, “Mental yang baik itu dianalogikan seperti seorang penjahit. Setiap kali pelanggan datang menjahitkan baju, saat itu juga penjahit mengambil ukuran badan pelanggan. Tidak peduli berapa sering pelanggan datang.”

Artinya apa? Perubahan itu pasti, yang tidak pasti itu tendensi arah perubahan, bisa ke arah yang lebih baik atau sebaliknya. Perubahan itu tidak bisa ditolak walau pun batin sebisa mungkin menolaknya.Maka biasakanlah diri dengan perubahan. Lantas, kenapa kadang perubahan begitu menakutkan? Jangan salah kaprah dulu, tidak ada yang salah dengan perubahan. Perubahan terasa hampa bahkan menyakitkan jika tidak sesuai dengan harapan, baik harapan yang mungkin kita pendam diam-diam dalam hati atau pun terang-terangan, maka nggak salah juga jika ada istilah “hoping is the best way to get hurt”. Jadi, berharap itu sesuatu yang salah dan harus dihindari? Tidak selalu, kita manusia hidup di antara masa lalu dan harapan. Hari ini tidak ada tanpa masa lalu, jika kita nggak punya harapan buat apa kita hidup? Anak panah tidak akan melesak dari busurnya tanpa sasaran bukan? Sama saja, apa kita benar-benar “hidup” tanpa harapan, target dan keinginan di masa depan. Manusiawi, pasti semua manusia bermimpi dan berharap, bahkan desiran dalam hati bisa menjadi harapan. Kenyatataan bisa saja membuat harapan yang awalnya manis menjadi sangat menyakitkan, maka kita perlu tameng untuk dijadikan sistem pertahanan diri kita agar tidak mudah hancur karena harapan yang dibuat sendiri, tameng itu adalah rasionalitas. Ya, bahkan dalam berharap dan bermimpi pun rasionalitas harus dilibatkan. Tentu setiap anak panah yang dilepas dari busurnya diharapkan akan menemui sasaran bukan? Tapi rasanya hal itu tidak masuk logika jika anak panah dilepaskan dari Jakarta sedangkan sasarannya ada di Surabaya. Lalu, dimana fungsi hati nurani? Melibatkan rasonalitas dalam berharap bukan berarti menghilangkan suara hati, atau orang jaman sekarang biasa menyebutnya “feeling”, perasaan yang yakin akan sesuatu akan terjadi atau tidak, entah dari mana asalnya perasaan itu. Seperti pepatah, biarkan otak yang mempertimbangkan semuanya, tapi biarkan hati yang mengambil keputusan.

Apa yang tidak berubah? Bahkan saat aku mengitik huruf per huruf tulisan ini, sesuatu yang berharga yang sering terlupakan juga berubah, waktu. Setiap kepala mempunyai reaksi yang berbeda dalam menilai setipa perubahan. Mentalitas manusia dibagi menjadi dua macam dalam melihat perubahan, fixed mind dan growth mind. Kalau boleh minjem istilah anak muda generasi saat ini, fixed mind bisa diartikan dengan istilah “gagal move on”, gagal move on di sini tidak selalu berkaitan dengan masalah asmara atau cinta-cintaan ABG jaman sekarang. “Gagal move on” bisa diartikan stagnan, melihat dunia dalam bentuk yang pakem dan sama dari waktu ke waktu, tidak berubah. Misal, jika saya adalah tipe seseorang tipe fixed mind dan ada teman saya pernah melakukan satu kesalahan maka selamanya orang yang bersangkutan salah di mata saya walaupun suatu ketika ia melakukan sesuatu yang benar. Tidak ada jalan keluar lagi bagi teman saya tersebut untuk berbuat benar karena dalam otak saya teman saya tersebut sudah terpaten menjadi orang yang salah. Jika saya melihat seorang berjenggot melakukan pengeboman rakyat sipil, maka semua orang berjenggot mempunyai tendensi menjadi teroris, itu jika saya manusai bertipe mental fixed mind. Demikian juga saat saya menaruh harapan A, B, C, dan bla bla bla terhadap seseorang, dan ternyata saat waktunya tiba semuanya tidak seperti yang saya harapkan, maka saat seperti ini akan muncul gejala-gelaja “gagal move on” tadi. Galau, mengharu biru dan….. ada yang bisa menyebutkan lagi gejala gagal move on?

Sedangkan orang-orang yang bertipe growth mind adalah mereka yang melihat dunia dalam dimensi yang berbeda dari waktu ke waktu, mereka inilah yang dijuluki pemilik mental penjahit oleh Bernard Shaw, seperti istilah di awal tadi. Jika saya tipe orang bermental growth mind, maka tak selamanya saya melihat teman yang pernah membuat salah akan selamanya salah. Saya melihat dunia bergerak dinamis, melihat orang lain berubah dari waktu ke waktu.

Jadi, salahkah aku jika aku tidak seperti diriku yang dulu?

Lupakan, yang terakhir itu hanya pertanyaan retorikal. Semoga bermanfaat dan selamat ber-akhir pekan 

Aang Kunaefi

18 Januari 2013

Probolinggo

Iklan
Standar

2 thoughts on “PERUBAHAN, GAGAL MOVE ON DAN GROWTH MIND

  1. riki_ringo, a friendofcollege berkata:

    yuuupppp… semangat menulisnya aang….

    perubahan pasti selalu ada, orang yg berhasil adalah orang yg bisa memanfaatkannya….

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s