Esai

Aib, duri, mawar dan kentut: Di antara ketidakmengertian atas diri sendiri

Aib
Mungkin Anda pernah mendengar ada orang yang membicarakan kejelekan, aib, sisi negatif orang lain kepada anda. Mungkin orang yang dia bicarakan itu adalah musuh (walaupun saya sangat yakin anda tidak punya musuh dan tidak pernah terbesit keinginan untuk mempunyai musuh) dia, kerabat, teman, pasangan atau bahkan keluarga mereka. Mungkin juga yang bicara itu adalah musuh anda, teman, kerabat, pasangan anda, bahkan saya sendiri atau mungkin juga anda, semuanya, tidak menutup kemungkinan.
Faktanya ada kepuasan tersendiri saat ada unek-unek tentang orang lain dari yang ada kaitannya dengan kita maupun tidak disampaikan kepada orang lain. Fakta lain yaitu kadang kita tidak punya filter mana yang harus disampaikan kepada orang lain, mana yang harusnya tidak, dalam konteks ini saya mengatakan “kita”. Jadi tidak menutup kemungkinan saya mungkin juga pernah melakukannya dan ada kemungkinan melakukannya lagi, manusiawi kecuali kedudukan saya atau mungkin anda sudah menjadi malaikat, pensiun jadi manusia biasa.
Mungkin kita (saya) berada di puncak ketidakmengertian atas diri kita sendiri, bahkan untuk memfilter mana yang harus dibicarakan dan mana yang tidak kita pun tidak tahu. Kemungkinan yang lain adalah kita punya filter itu, tapi sengaja merusaknya karena kita terlanjur membiarkan nafsu terlalu berkuasa. Dalam hal marah, mungkin kita terlalu sering membiarkan mulut mengangkangi kemarahan hati. Ada sesuatu yang kurang sesuai sedikit, kata-kata pedas keluar. Ada yang tidak sepakat, perang urat saraf keluar. “Dia belum tau siapa gue..”. Terlalu sering mulut ini memberi kesan marah padahal hati belum benar-benar siap marah dan meneriman setiap konsekuensinya, lebih parah lagi kita mungkin bahkan belum tahu apa pantas marah atas apa yang yang terjadi.
***

Duri dan mawar
Point penting yang ingin saya sampaikan di sini bukan masalah marah itu sendiri karena ada beberapa tipe orang yang masih membuat saya bingung. Ada yang sebenarnya marah tapi kelihatan kalem, tenang dan masih dalam kontrol. Ada pula yang tampak marah namun sebenarnya ia tidak serius benar-benar marah. Menghanyutkan. Jadi point yang sebenarnya yang ingin saya kedepankan adalah bahwa tidak selayaknya setiap kejelekan/aib/sisi negatif orang dijual ke khalayak umum atau sekedar membaginya dengan orang lain kalau memang tidak dalam kondisi mendesak dan mengharuskan untuk menceritakannya. Kenapa bisa begitu? Pertama, tidak setiap orang ingin mendengarkan aib orang lain. Kedua, saya yakin hal itu juga tidak akan memberikan kita keuntungan.
Setidaknya kita masih sama-sama tahu dan percaya bahwa setiap sesuatu, apapun itu, memiliki 2 sisi, sisi baik dan buruk. Tergantung manusianya mau melihatnya dari sisi sebelah mana. Sama halnya dengan filosofi pohon mawar, ada dua tipe orang dalam melihat pohon mawar. Yang pertama ialah orang yang melihat durinya sehingga ia berkesimpulan kalau pohon mawar itu menyakitkan, mengerikan, dll. Yang kedua, melihat mawarnya sehingga dia bisa memberi kesan bahwa pohon mawar itu identik dengan keindahan. Saya dan anda semua termasuk yang mana? Tergantung kepada pilihan dan prinsip masing-masing.
***

Kentut
Kembali ke masalah keburukan orang, jadi kalau boleh memberikan analogi yang mungkin agak ngawur, hal ini hampir sama dengan kentut. Lho kenapa harus “kentut”?
Semua orang tau kalau kentut itu aromanya sama sekali tidak toleran dan saya rasa kita TIDAK PERLU MENCIUM ATAU MEMBAUINYA untuk membuktikannya, apalagi menganginkan kentut agar orang lain kebagian memcium aromanya. Dan alangkah konyolnya orang yang mau dengan sukarela mencium kentut orang lain dan memperoleh kenikmatan dengan menciumnya sehingga berusaha untuk membagika aroma kentut itu dengan orang lain. “nggilani….”
Ah mungkin ini hanya gumaman hati saya di tengah ketidakmengertian ini. saya memaklumi itu karena mungkin level saya hanya sebatas berbicara, belum di level beraksi seperti anda-anda semua.
Seperti pepatah “Actions speak louder than words!!”, saya memberikan apresiasi setinggi-tingginya buat orang-orang yang berbuat/beraksi bahkan tanpa harus berbicara, apresiasi itu saya junjung karena saya sendiri belum sampai di level permainan itu. Maaf jika ada kata-kata yang salah, mungkin tidak semua yang saya tulis ini benar, no offence, tak ada maksud lain kecuali menyuarakan gumaman hati.
Selamat beraktifitas dan semoga sukses.
***

Probolinggo, 24/01/12
Aang Kunaefi

Iklan
Standar

9 thoughts on “Aib, duri, mawar dan kentut: Di antara ketidakmengertian atas diri sendiri

  1. wanspeak berkata:

    artikel yang bagus, Aang. Btw, bukunya (kumcer) aku kasih ke kamu pas pemberkasan aja ya. Ongkirnya lumayan waktu kirimnya juga sama.

  2. Semoga sukses juga Aang 🙂

    Eh, hati yang sudah siap marah itu yang seperti apa yaaaa??? Semoga selamanya tidak akan siap deh, jadinya gak pake acara marah-marah. hihihi 😀

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s