Esai

Ingat falsafah ilmu padi

Ingat ilmu falsafah ilmu padi. Semakin tua, semakin menunduk. Demikian juga ketika menuntut ilmu di kampus, semakin siang semakin tertunduk (karena kantuk).

Tentu analogi di atas bukan arti yang sebenarnya karena itu hanyalah gaya bercanda teman-teman kuliah saya diadopsi dari kebiasaan kalau kuliah, semakin siang, semakin kantuk.

Falsafah padi itu sederhana, namun sarat makna jika diartikan dengan benar. Terlalu naif rasanya jika ilmu diidentikkan dengan buku-buku, sekolah-sekolah, kampus-kampus, dll walaupun memang aspek-aspek itu berkontribusi banyak dalam menimba ilmu. Namun kadang saya merasa menyesal membatasi diri saya dalam menimba ilmu dengan dikotomi seperti itu semua.

Oke, mari kembali lagi ke falsafah padi tadi. Seharusnya, semakin berilmu, manusia itu harus lebih menunduk. Maka saya sangat menyesal saya pernah membodohi orang lain, ngedebat, memperkosa hak orang lain, meremehkan orang lain dan lain sebagainya hanya untuk menunjukkan bahwa saya lebih berilmu dari mereka, sungguh hina rasanya. Ilmu bukan alat untuk membokongi orang lain, bukan sarana untuk meremehkan orang lain.

Ilmu menurut pribadi saya, lebih dari sekedar wawasan yang bebas. Ilmu tentunya lebih terarah, makanya orang yang berilmu seharusnya hidupnya, bicaranya, pikirannya -jiwanya- terarah. Sama halnya, kita perlu mengetahui ada jurang, tujuannya bukan untuk loncat ke dalam jurang, tapi untuk menghindari agar saya dan panjenengan semua tidak terjerumus ke dalam jurang bukan?

Jadi anda boleh mencari kesalahan orang lain, tapi bukan untuk menyalahkan orang tersebut, melainkan untuk mencegah diri kita agar tidak melakukan kesalahan yang sama seperti yang orang itu lakukan, lebih-lebih jika kita bisa meluruskan kesalahan itu semua. Apa gunanya kritik yang tidak disertai solusi? Banyak orang yang bisa menyalahkan, tapi jarang yang bisa membenarkan. Maka jadilah orang-orang yang masuk ke kelompok yang kedua, bisa membenarkan.

It’s good if you’re doing the right things, but it’s great if you’re doing things right.

Nah hal yang semacam ini yang belum ada di lingkungan pendidikan formal. Jadi jika pendidikan formal, gelar akademis, dll hanya menciptakan eksklusivisme terhadap golongan “terdidik” dari yang “tak terdidik” dalam masyarakan, maka hal semacam ini dikotomi yang salah –masih menurut pandangan saya-.

Salah satu dosen saya pernah bilang:

“Jika kehidupan ini diumpamakan buku, maka apa yang didapat di sekolah-sekolah dan di kampus-kampus hanyalah daftar isinya, sedangkan isi yang sebenarnya ada di luar sana.”

Prestasi akademis bukan satu-satunya indikator tingginya ilmu. Kalau misalnya saya membuat analogi, maka ilmu yang sifatnya umum (akademis, dll) seperti rumput liar yang bisa tumbuh dimana pun, kapan pun, tanpa harus ditanam, sedangkan ilmu yang sifatnya moral, agama, dll itu seperti tanaman padi. Jadi Anda boleh membayangkan sepetak pematang sawah, maka rumput liar pun bisa bertahan tanpa ada perawatan sekalipun, ini tidak berlaku untuk tanaman padi, jika tidak ada yang menanamnya maka tidak akan tumbuh. Artinya apa, sesuatu yang bersifat moral itu harus ditanam, harus dipupuk. Kenapa harus dipupuk? Ya, hati manusia sangat labil. Kadang berada berada di jalur yang benar, namun ada kalanya keluar dari jalur yang seharusnya, saya pun demikian.

Oke, dari analogi di atas, rumput dan tanaman padi harus sama-sama seimbang, jika rumput liar terlalu lebat hingga menutupi tanaman padi, tentu hal ini yang perlu dihindari. Namun untuk menjaga agar semuanya seimbang bukanlah perkara yang mudah, perlu pengorbanan.

Jadi begitulah hakekat ilmu menurut versi saya, ilmu ada untuk membantu, bukan menjerumuskan. Maka mari berilmu!!!

Aang Kunaefi

Sarmili 44, tangerang selatan

29/07/2011

Iklan
Standar

40 thoughts on “Ingat falsafah ilmu padi

  1. Saya jadi teringat juga jaman saya labil dulu… awal2 kuliah… saya merasa hebat, merasa lebih dari teman2 saya yang lain… gak tahunya masih banyak yang lebih hebat dari saya di kampus.. sungguh malu.. Sejak itu saya tersadar, betapa punya ilmu itu gak bisa disombongkan… 😐

    • aangbikinblog berkata:

      yang penting semua itu sudah berlalu, esok lebih menarik daripada hari kemarin bener ga?? hehe….
      makasi udah berkunjung ke gubugku ini…

  2. Ichi berkata:

    rata2 orang berilmu apalagi yang ada di -maaf-D*R, sebagian besar menyombongkan ilmu mereka dan menggunakannya justru untuk hal – hal yang merugikan rakyat. Setelah melihat berbagai debat, baik di JLC (Jakarta lawyers Club) maupun debat2 lain di berbagai stasiun televisi swasta, orang2 itu saling mementingkan ego, merasa paling benar. Padahal seharusnya, semakin tua semakin bijaksana.

    • aangbikinblog berkata:

      iya tu, jadi inget mekanisme pertahanan diri, orang yang merasa terancam cenderung melalukan upaya2 untuk mempertahankan diri. Pun demikian juga mereka (mungkin), ingin eksistensinya diperhitungkan maka hanya dengan cara begitu mereka mencoba menarik hati rakyat yg justru malah sebaliknya, memalingkan hati rakyat…

  3. saya lebih senang mengatakan ilmu yg paling baik adalah pengalaman..dan pengalaman lah yg mengajarkan kita untuk bisa lebih menghargai satu sama lain, dan berlaku rendah diri seperti padi jika dia berada dalam komunitas yg lebih atau bahkan lebih rendah dr padanya

    • aangbikinblog berkata:

      yup bener banged. pengalaman itu ga bisa dibeli, hanya bisa dijalani…. sekarang tergantung manusianya mau ambil ilmu ga dari setiap pengalaman yg pernah ia lewati… makasi udah berkunjung ke gubugku =)

    • aangbikinblog berkata:

      Wah itu hanya falsafah anak pinggiran masbro hehe ga sampe ke tingkat filsuf yg syarat akan unsur seni, yg penting maknanya dapet hehe….
      Cuma belajar dari hidup yg kata beberapa orang si ga sempurna, tp justru itu yg membuat sempurna bagi yg menjalaninya hehe happy blogwalking ya..

  4. tanda-tanda manfaat tidaknya ilmu, adalah adanya takut tidaknya orang yang berilmu dengan Alloh, sekalipun punya berbagai bidang macam pengetahuan tapi tak ada rasa takut pada Alloh, maka jelas ilmu yg di miliki tidak manfaat, bisa jadi ilmunya untuk menipu, korupsi, dan ujungnya semua neraka,
    tapi bila punya ilmu sedikit tapi takut selalu pada Alloh, maka itulah tanda ilmu orang tersebut bermanfaat, bisa jadi sandaran umat.

    • aangbikinblog berkata:

      yup bener banged panjenengan, apa gunanya ilmu jika ga bisa membawa ke arah yang lebih baik, ga bisa mendekatkan diri dengan Yang Maha Berilmu =)

  5. saya suka kutipan yang dari dosen, memang ilmu yang kita dapat di kehidupan kampus atau sekolah cuma based nya saja, tanpa aplikasi ke masyarakat sama saja tiada guna. Nice post 🙂

    • aangbikinblog berkata:

      yap benar sekali masbro, jadi malu dengan atribut keakademisan jika belum paham hakekat ilmu yang sebenarnya….
      happy blogwalking…

    • aangbikinblog berkata:

      Di atas lagit masih ada langit lagi, Mas-Giy. Nabi Musa pernah merasa menjadi manusia paling pintar hingga suatu moment dia bertemu Nabi Khidir. Semakin jauh mengenal ilmu, semakin kita merasa bodoh bukan??
      semanga =)

  6. assalamu alaikum
    kunjungan perdana 🙂
    salam ukhwah semoga dapt terjalin silaturahmi

    sebagai seorang yang berilmu, semoga membuat diri kita lebih derma dan bijak dlam menyikapi segala bentuk permasalahan .. amin 🙂

    salam blogger makassar
    🙂

  7. adheeq berkata:

    yg susah adalah ketika kita bukan padi dan bagaimana kita tetap berpikiran positif terhadap orang yg menerapkan falsafah padi tsb 🙂

    • aangbikinblog berkata:

      Dianalogikan…
      yg pasti setiap org punya orientasi hidup yang berbeda, hormati itu 🙂
      Don’t force your value to others..

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s