Esai

POLITIK KESIANGAN

 Rapat Akbar, Kampanye Akbar!

Selalu ada kejutan yang tak terduga setiap kali saya pulang ke kampung halaman. Selesai Ujian Tengah Semester 6, ada waktu kosong 10 hari yang sangat saya manfaatkan untuk berkumpul dengan keluarga sebelum benar-benar disibukkan dengan dunia kerja.

Sore itu, ada sebuah arak-arakan di jalan pelosok desa yang memang keadaannya memprihatinkan, jebol hampir di semua sisi jalan. kata orang sekitar sedang ada “rapat akbar” sebuah partai politik, tapi saya lebih suka menyebutnya sebagai kampanye akbar sebuah parpol. Saya sengaja menyimak event itu, mendengarkan setiap pidato yang disampaikan dengan berapi-api, memperhatikan setiap gerak-gerik orang yang hadir di tempat itu. Ya, alun-alun tempat kampanye tersebut memang sangat ideal untuk dijadikan tempat untuk mengumpulkan massa dalam jumlah yang besar.

Gempalan ratusan tangan orang dihempaskan ke udara setiap kali kader partai menyampaikan pidato yang sangat berapi-api. Namun saya memilih untuk diam, mungkin karena aku merasa asing berada dalam kerumunan orang-orang itu, atau mungkin aku untuk saat ini belum begitu tertarik dengan dunia politik. Aku sangat kagum sekaligus takut mendengar setiap pidato yang disampaikan, begitu mapan konsep yang dirancang untuk Negara ini, untuk rakyat ini. Kagum atas keberanian mereka merancang konsep negara Indonesia yang super plural dan rindu akan keadilan. Saya juga bimbang jika nanti mereka terpilih, apa yang mereka sampaikan hanya sekedar ucapan saja, belum bisa terealisasi. Saya takut membayangkan bagaimana kekecewaan yang dialami berjuta-juta rakyat Indonesia. Mungkin kekhawatiran saya berlebihan karena yang pertama saya bukan siapa-siapa, hanya rakyat biasa dan yang kedua mungkin Rakyat Indonesia sudah terbiasa dikecewakan.

Rakyat Indonesia suka mengkonsumsi “nasi”, bukan “roti”

Inilah wajah demokrasi Indonesia. Mungkin agak berbeda jika dibandingkan negara-negara yang lebih tua dalam menenarapkan demokrasi. Terlalu jauh jika harus berkaca kepada mereka, selain secara kultural Indonesia lebih kompleks, faktor iklim politik dan kedewasaan dalam berdemokrasi mungkin juga berbeda. Jadi perlu dipikirkan secara matang dulu jika ingin menyerap demokrasi yang diterapkan di negara lain 100%. Rakyat Indonesia masih belum terbiasa makan “roti” kok, sepertinya belum benar-benar makan kalau belum makan “nasi”.

Politik Kesiangan

Jadi, sebagai orang awam, saya suka mengatakan bahwa Indonesia masih belajar berdemokrasi. Ya namanya belajar, orang-orang yang terlibat di dalamnya itu “pelajar”, mungkin boleh “salah”.

Jadi mungkin beberapa kalangan atau seluruh rakyat Indonesia menganggap lumrah jika apa yang pimpinan mereka janjikan dulu belum terealisasi juga, sekali lagi, namanya juga “pelajar”. Ya mungkin PR mereka sering agak telat dikerjakan.

Mungkin kemaren-kemaren “pelajar/murid” itu sering telat datang kelas dan mengerjakan PR mereka karena kesiangan. Sialnya siklus itu berulang terus-menerus. Mungkin karena sering kesiangan gurunya pun jengkel, sebagai langkah antisipatif guru mengirim sang murid ke guru BK (bimbingan dan Konseling) untuk mendapat beberapa pembelajaran atau mungkin hukuman supaya ke depannya tidak kesiangan lagi. Namun lucunya, sang murid tadi kembali lagi dan berkata:

“Maaf Pak Guru, saya kembali lagi, Guru BK juga kesiangan!!”

Aang Kunaefi

18.48 02/06/2011

Probolinggo

Iklan
Standar

45 thoughts on “POLITIK KESIANGAN

    • aangbikinblog berkata:

      Ringan kok mbaksis, cuma mbahas murid2 sekolahan tu hehehe…

      iya mbaksis, itu udah jadi trik lama dalam dunia politik…

      Politic is like an angel masked by demon..
      one day, I ma be trapped among that stuff =)
      makasi ya udah mampir ke gubugku yang sederhana ini…

  1. ichi berkata:

    sekali lagi, bahasan yang diulas di blognya mas Aang ini pasti berat, berbobot, inspiratif, dan kreatif.
    TOP dah! Masalah politik sebenarnya saya sendiri tidak begitu tertarik, yang penting masalah kenegaraan kita harus ambil bagian sebagai orang yang memajukan (bukan pindah lokasi lho) dan membanggakan NKRI suatu saat nanti.

    • aangbikinblog berkata:

      Mas ichwan, cuma kebetulan aja kok, pas jalan2 ke pinggiran plosok negeri yg hebat ini, ketemu fenomena kaya itu….
      saya share aja sama yang lain hehe

    • aangbikinblog berkata:

      kungkin jadi mahasiswa dulu ya, mas anank??
      hehe….
      salam kenal, salam transistor jengkol hehe…
      ijin blog panjenengan ta pajang di blogroll saya..

  2. cuma bisa senyum pas baca kalimat trakhir,.

    lantas berpikir, siapa murid siapa guru BK??
    ah,. masih belum cukup berani diri ini ini untuk langsung menyebut ‘merk’…

    tapi keren juga perumpamannya.
    oia,. blogger sedang bermasalah rasanya. dari kemaren belum bisa pasang link blog ini. tapi ku usahakan secepatnya 🙂

    • aangbikinblog berkata:

      Buat mbaksis Rie Ramadhanie (Btw, manggilnya apa ya??)

      pertama slahkan tersenyum menyaksikan kelucuan negeri kita ini, hidup ini memang harus dinikmati seberat apapun beban yg kita pikul…

      kedua, sy memang ngga menyebutkan merek krn sy jg ngga tau merknya apa hehehe.. Jadi saya persilakan pembaca untuk membuat interpretasi masing2, ini negara demokrasi bukan?

      mengenai pasang link, santai ajaaaa hehe semua bisa diatur ok??
      keep writing!!
      makasi uda mampir ke gubug saya… =)

    • aangbikinblog berkata:

      Kang asop, ya beginilah politik..
      politik itu kepentingan hehe..
      Btw, tu artikel pajak lucu juga hehe
      Sampean berhasil memajang senyum di wajahku…

  3. Sebenarnya PR tersebut dapat terselesaikan dengan benar dan pada waktunya bila dikerjakan dengan sungguh-sungguhnya. Tapi fakta yang kita lihat malah mereka sering menunda-nunda bahkan mengabaikan hal tersebut dan lebih memikirkan hal-hal yg bersifat keuntungan pribadi.

    • aangbikinblog berkata:

      yap bener banged….
      Mungkin PR terbesar negeri ini adalah untuk tdak menyepelekan PR itu sendiri =)

    • aangbikinblog berkata:

      Pertanyaan menarik, mungkin para pelaku poloitik jangan muluk2 mikir ini itu dulu ya??? jawab pertanyaan dasar ini dulu mungkin =)

  4. ha…ha….. asal jangan jadi pahlawan kesiangan. Seseru apapun dunia p[olitik rasa2nya saya enggan untuk berkecimpung. Jika pun harus memaknai demokrasi ya saya mah mengajarkan yang sederhana ke teman-teman kecil saya.

    BTW, jadi kamu oph yang suka datang kesiangan…… malemnya blogwalking, facebookan, sama twitteran yaaak? Pantes kesiangan….. Besok2 jangan diulangi lagi! hihihihihihi

    Salam,

    Seru jadi Guru 🙂

    • aangbikinblog berkata:

      Manusia itu mau ngga mau ya pasti bergesekan dengan dunia politik..
      sadar atau ngga kita masuk ke dalamnya..
      tinggal manusianya aja mau ambil peran yang mana, kemudian memainkannya =)

  5. aangbikinblog berkata:

    makasih banged, tp maaf kok linknya ngga bisa diakses ya??
    ada notifikasi seperti ini:
    “Laman tidak ditemukan
    Maaf, laman yang sedang Anda cari dalam blog Ejawantah’s blog tidak ada.”

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s