Esai

Someone Among Others

Inget kata-kata Cak Nun di Kenduri Cinta, peminpin yang sejati itu pertama dia harus memberi contoh di depan. Setelah memberi contoh di depan, dia berani tidak menjadi siapa-siapa, dia sekedar menjadi “someone among others”, tidak terkenal ndak apa-apa, tidak dijunjung ndak apa-apa, karena dia hanya merasa sebagai seseorang diantara orang-orang. Sangat susah mencari orang yang kayak gini. Ini resikonya kan – ke warung ya nyari warung sendiri, disapa orang seneng, gak disapa juga seneng -.

Tapi kalau udah terlanjur terkenal kan gak disapa orang sakit hati, “gila, nggak tau gue dia..”. Benar begitu kan? Tapi liat sekarang ini, sepertinya orang berlomba-lomba untuk dianggap lebih dari sekedar “seseorang”, jadi gak heran jika mereka gila dengan penghormatan-penghormatan yang sifatnya vertikal. Seandainya saja kita balik metode sopan santun, semakin ke orang bawah semakin kita sopan, semakin ke orang atas semakin kita tidak sopan. Hal ini cuma untuk mendidik jiwa kita agar tidak terjebak di jaman feodalisme yang sifatnya vertikal ini, agar kita lebih bisa menghargai orang lain dgn benar.

Dari di depan menuju ditengah-tengah orang “to be just someone”, terus di belakang. Puncak kepeminpinan adalah ketika anda berani hanya berdiri di belakang orang-orang dan anda lah yang paling hebat diantara orang-orang, di belakang itu gak disorot kamera (namanya juga di belakang).

Kebanyakan orang tidak berani menjadi manusia, mereka beraninya menjadi bupati, bupati, gubernur dll. Banyak orang yang mempersempit hidupnya dan kehilangan kesempatan untuk bergaul secara kemanusiaan kepada semua manusia.

Nah yang begitu itu kan mereka belum tau kalau manusia itu cuma bawang, bawang yg dikuliti dari tahap ke tahap, dari sekolah ke sekolah, dari pengalaman ke pengalaman dikuliti terus, nanti kalau kulitnya sudah habis, ternyata isinya tidak ada, yap itulah manusia. Jadi kalau anda jadi bupati, jangan percaya dengan kebupatian anda, itu hanya kulit bawang. Begitu juga jika anda menjadi presiden, intelek, pengusaha kaya, itu semua hanya kulit bawang yang akan kita kuliti terus menerus sampai akhirnya kita tau kita ini tidak ada dan tidak penting. Jika anda sudah tau bahwa anda ini tidak penting baru anda bisa hidup bahagia. Anda tidak bahagia karena anda selalu mengukur bahwa anda itu penting diantara orang lain, “lho dia kok seenaknya sama saya, padahal saya ini orang penting”, nah yang kayak gini ini yg buat hidup kita gak bahagia. Nah kalau kita sadar kalau kita ini hanya bawang maka kita akan sampai ke tingkat tasawuf bahwa diri yang sejati itu adalah ketiadaan bagi manusia dan kemengadaan dari Gusti Allah..

Iklan
Standar

9 thoughts on “Someone Among Others

    • aangbikinblog berkata:

      terima kasih mas syukur…
      sebenarnya ini juga bukan murni pemikiran saya, ini adalah pemikiran tokoh yang saya kagumi cara pikir beliau..
      terima kasih sudah berkunjung mas syukur…
      jangan sungkan2 baca posting yang lain ya, mudah2an bermanfaat..

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s