Esai

Apa dimensi hidup ini terbatas pada sekat benar-salah?

Sebelumnya saya ingin menjelaskan bahwa note yang saya buat ini di luar dari dari jangkauan ilmiah, jadi jangan menuntut sesuatu yang berbau ilmiah karena jangkauan saya tidak sampai ke arah itu. Segala isi note ini pun bukan diambil jurnal ilmiah atau pun seminar akbar, melainkan hanya diambil dari interaksi saya sehari-hari, dari obrolan di warung kopi dengan orang-orang kampung, dengan teman-teman kuliah sampai dosen di kampus saya.
Bermula saat berbincang dengan salah satu guru saya, orang yang senantiasa menyirami anak-anak didiknya dengan ilmu, ternyata sangat menakjubkan. Saya yang masih buta dalam hidup yang gelap ini seakan mendapat donor mata, kemudian diarahkan ke jalan yang menurut saya memang benar, membuat saya yang sangat dungu ini bisa memandang dunia dengan cara pandang lain, keluar dari cara monoton yg sering saya lakukan, keluar dari dunia keakuan yang hanya berisi kata ganti manusia atau pronoun bernama “aku”, tanpa “kita”, “mereka”, “dia”, “kami”, apalagi “kamu”.
Dulu saya sempat berkeyakinan kalau guru bukan dewa, guru tidak selalu benar, ya walaupun memang begitu adanya. Dan atas ketidaksempurnaan itu saya selalu bersikap sangat ekstrem, ketika ada yang salah saya dengan lantang langsung meneriakkan idiologi saya tanpa pandang bulu, semua dipukul rata, asumsi saya pada saat itu bahwa variabel dalam hidup ini hanya salah atau benar, tanpa ada pilihan variabel lain.

BENAR-SALAH. Begitu sempit dimensi pikir saya, kalau ingat obrolan dengan salah satu dosen saya dikampus, saya jadi malu sendri, ingat tingkah saya dulu-dulu. Sungguh picik jika hidup ini hanya bervariabel benar-salah, padahal ada variabel lain yang ada dalam hidup ini selain “salah-benar”, yaitu “baik-buruk” dan “kewajiban-hak”.
Variabel-variabel itu memang sama, sama bukan berarti mempunyai arti yang persis sama juga bukan?

Jadi miris liat hidup sekarang, liat berita-berita di tv, liat anak-anak muda di terminal, di bus kota, bahkan saya miris memandang hidup saya yang bahkan tak terkonsep ini.
Mengenai konsep tadi, benar-salah, baik-buruk dan kewajiban-hak. Misal ada orang tua (bukan orang yg sudah tua, tapi dalam bahasa inggris disebut parent) melakukan mengambil hak orang lain, kemudian sebagai anak panjenengan mendatangi orang tua anda, membanting meja seraya dengan lantang menghujat orang tua anda karena tidak sesuai dengan idiologi panjenengan, itu boleh-boleh saja, saya menghargai idiologi panjenengan. Kalau ditinjau berdasarkan variabel benar-salah orang tua panjenengan sudah jelas salah, tapi ditinjau dengan variabel baik-buruk apa cara panjenengan menghujat orang tua panjenengan disertai membanting meja itu bisa disebut baik?
Secara etika dan agama kita tetap harus menggunakan sopan santun dalam mengkritik orang tua kita sendiri, itu salah satu pemisalan dan munkin masih banyak fakta lain yg panjenengan tau.

Jadi jangan heran jika:

ada orang mengucapkan sesuatu dan melakukannya. Ada orang mengucapkannya tapi tidak melakukannya. Ada orang yang melakukannya tetapi tak mengucapkannya, dan ada yang mengucapkan dan tak melakukan…, dengan berbagai variabelnya.

Ada orang yang mengkritik dan memberikan jalan keluar. Ada orang mengkritik tetapi tidak bisa memberi jalan keluar. Ada orang yang memberi jalan keluar tanpa mengkritik. Ada orang yang tidak mengkritik dan tidak memberi jalan keluar…, dgn berbagai variabelnya.

Ada orang yg tahu sedikit tentang sedikit hal. Ada orang tahu banyak tentang sedikit hal. Ada yg tahu banyak tentang banyak hal…, dgn berbagai variabelnya.

Ada orang yang mengerti dan mengerti bahwa ia mengerti. Ada orang mengerti tetapi tidak mengerti bahwa ia mengerti. Ada orang tidak mengerti dan tidak mengerti bahwa dia tidak mengerti…,dan dgn segala variabelnya.

Dan masih banyak lagi kondisi serupa yg dpt dgn mudah kita perhatikan di jaman skg ini. Oleh karena itu, mari kita belajar memandang dunia ini dengan dimensi yang lebih luas, tinggalkan cara pandang yang sempit dan monoton.

The End.

Iklan
Standar

2 thoughts on “Apa dimensi hidup ini terbatas pada sekat benar-salah?

    • aangbikinblog berkata:

      Terima kasi atas kunjungan ke gubug saya ini, bung Adry..
      #blogwalking ya buat kamu….
      keep blogging =)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s