Esai

Ternyata saya hanya menipu diri saya sendiri

Tidak jarang saya tertipu dengan rutinitas saya sendiri. Saya pikir saya sedang sholat padahal saya sedang melaksanakan ritual permohonan agar karir saya melonjak. Saya pikir saya sedang puasa, padahal saya hanya ikut-ikutan puasa, sekedar menunjukkan eksistensi bahwa saya juga bagian dari masyarakat mayoritas dan melakukan rutinitas yang sama. Saya pikir saya sedang bersedekah, padahal saya sedang melakukan lobi kepada masyarakat untuk mendapat tittle orang yang sholeh. Saya benar-benar tertipu dengan itu semua. Lebih parah lagi saya menyadarinya tapi saya tidak pernah melakukan apa-apa untuk menghindarinya.

Saya masih benar-benar bodoh dalam menentukan niat, saya juga belum memiliki kompetensi dalam menentukan skala prioritas sebagaimana mestinya. Saya masih sering salah dalam menetapkan siapa yang seharusnya dihormati, siapa yang harus dituhankan dan siapa yang harus dimanusiakan. Kalau misalnya ada organisasi Gerakan Majnun Internasional, mungkin saya salah satu dari anggotanya. Saya malu dengan diri saya sendiri. Saya seringkali lupa siapa diri saya, maklum terlalu sering dan terlalu lama saya menjadi orang lain. Saya juga baru tahu bahwa saya juga punya hati kecil, intuisi. Tapi percuma, sudah lama saya mengubur suara hati saya, sehingga ketika berteriak pun saya tidak mendengar hati kecilku. Jadi saya tidak heran jika terkadang pikiran dan prinsip hidup saya terjajah oleh orang lain. Sering kali saya lebih sering mengutarakan pendapat pembenar, bukan pendapat yang benar. Saya terlalu percaya dengan kemampuan nalar otak tanpa memikirkan faktor dialetika antara otak dan hati nurani.

Saya juga tidak heran betapa sulitnya mempercayai orang atau menemukan orang yang dapat dipercaya di jaman yang serba modern ini. Anda bisa berkata : ” Saya tidak peduli dan tidak mempelajari hukum. Tanpa pasal-pasal hukum pun saya tidak mencuri, tidak akan melakukan korupsi, pembunuhan atau menyakiti orang lain. Kunci-kunci hukum sudah ada dalam kandungan nurani kalbu dan akal sehat saya. Ada KUHP atau tidak, ada undang-undang atau tidak, saya insya Allah bisa menjadi manusia yang tidak akan melanggar hakikat hidup manusia yang sejak diciptakan Allah memang wajib saling menyelamatkan, saling menyejahterakan, dan mencintai orang lain”.

Akan tetapi, di alam yang modern sekarang kalimat Anda itu tidak akan dipercaya oleh siapa pun. Karena manusia modern tidak punya pengalaman menjadi manusia baik dengan hanya berbekal nurani dan akal sehatnya sendiri. Manusia modern tidak melanggar hukum karena takut kepada hukum, bahkan takut kepada polisi.

Itulah mungkin mengapa saya ini jauh jika dibanding orang pilihan Gusti Allah. Bahkan bukan tandingannya juga jika dibandingkan dengan bolot-bolot beliau-beliau. Menantu Rasulullah Muhammad SAW, Ali ibn Abi Thalib, menang duel, musuh tergeletak dengan ujung pedang Ali tepat mengarah ke lehernya. Si musuh meludahi wajah Ali, namun tiba-tiba Ali menarik pedangnya dari leher musuhnya itu, semua orang heran karena Ali bukannya menghunuskan Pedangnya tepat di leher musuh, malah Ali ngeloyor pergi meninggalkan musuh yg sebenarnya dengan dengan satu hentakan pedang bisa menutus lehernya. Ketika ditanya, Ali menjawab : “Karena diludahi, aku meninggalkannya, karena aku takut gerak ujung pedangku digerakkan oleh amarah, bukan bergerak karena Allah.”

Itulah perbedaan yang sangat kontras antara orang awam seperti saya dengan orang-orang yang memiliki pemahaman yang luar biasa tentang tauhid, semua niat cuma ditujukan, didedikasikan buat satu Dzat, yaitu Rajanya Manusia. Lantas mau apa lagi saya ini, meluruskan niat saja sudah tidak becus?

Aang Kunaefi
Kamar kumuh berukuran 3 x 3 meter, Probolinggo.
25 Desember 2010

Iklan
Standar

8 thoughts on “Ternyata saya hanya menipu diri saya sendiri

  1. vie berkata:

    klo saya amati kamu adalah tipe orang idialis ya ang (namamu aang kan?)?
    aku punya teman yg arah pemikirannya hampir sama denganmu

  2. aangbikinblog berkata:

    idealis?? engga, vie (nama km siapa?)
    biasa aja, hanya orang bodoh yg mencoba berteriak kepada dunia yg sudah lelah menahan beban2nya..

  3. firra berkata:

    yang baru dong mas tulisannya….uda tak tunggu loh..

    menurutku,tulisan mas aang yang ini keren banget…sesuai sih dengan apa yang terjadi pada umumnya

  4. aangbikinblog berkata:

    ah mbak ikaaa heheh, aku ga mau digemari mbak, lawong aku cuma ky gini ko ga ada spesial2nya hehehe…..

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s