Travel

Waiterang, Lil’ Bay Of Amazing Coral Reef

Tidak perlu bingung untuk mencari tempat snorkling di Maumere, tinggal cari bibir pantai, pakai fin, mask dan snorkel, kemudian nyebur! Tidak perlu repot-repot berenang sampai ke tengah laut, bahkan di sepanjang pantai kota Maumere pemandangan underwaternya sudah cukup menghibur. Setidaknya itu yang aku rasakan saat pertama kali menginjakkan kaki di Maumere, hampir tiga tahun yang lalu. Dan perasaan semacam itu, saya yakin, tidak ada yang menyuangkal, apalagi bagi bereka yang pertama kali ke Maumere. Manise!

Tapi aku harus mengakui, tiga tahun yang lalu bukanlah saat ini. Kerusakan terumbu karang tidak secepat pertumbuhannya. Bom ikan mungkin salah satu faktor kerusakan terumbu karang di sekitar Kota Maumere. Terakhir snorkeling di sana adalah saat melepas salah satu sahabat, tanggal 08 September 2015. Keadaannya sangat kontras. Maka hari sabtu kemarin, tanggal 03 Oktober 2015, Aku, Komenk, Wisnu dan Anom mencari spot diving baru. Kali ini ke arah Waiterang, 30 menit dari pusat Kota Maumere, beberapa menit sebelum Talibura.

Dan di sini lah keindahan-keindahan yang Tuhan rentangkan di bumi kami temukan, salah satunya di waiterang.

Waiterang Highligh

Waiterang mengingatkanku kepada Bule asal Italia, Fabio dan dua orang temannya yang berasal dari Kanada. Sekitar akhir tahun 2014 ketiga bule itu kebetulan nebeng mobil kami dari Ende ke Maumere. Saat aku tanya kemana tujuan akhirnya, di sini lah jawabannya, diving di ankermi lebih tepatnya.

Selama cuaca tidak mendung atau hujan, tidak ada waktu tertentu untuk mendapatkan pemandangan yang menawan, dari pagi hingga sore bisa! Namun jika berbicara waktu paling sempurna, pagi kira-kira jam 6.30 s.d 08.00 WITA. Cahaya pagi memberikan efek semangat! Terang jernih, memungkinkan mata menikmati pemandangan bawah laut dengan jarak pandang lebih luas.

Masih tentang timing snorkeling, the second best time for snorkeling is before sunset. Sebenarnya pemilihan waktu snorkeling pagi maupun sore tidak bisa dibuat komparasi karena masing-masing memberikan nuansa yang berbeda. Jika cahaya matahari memberikan nuansa semangat, bergairah dll dengan cahaya terangnya, maka di sore hari memberi nuansa yang sedikit berbeda. Dengan temaran cahaya matahari yang keemasan, snorkeling di sore hari memberikan kesan meneduhkan, cukup untuk menjadikan pengantar tidur malam yang indah.

Yap! Kejenuhan dengan rutinitas kerja kadang menuntun langkah kaki kita ke tempat-tempat yang bisa me-release dan merubah energi negatif menjadi energi positif, tempat ini salah satunya. By the way, ikan-ikan kecil berwarna biru terang ini tidak hanya tinggal berkoloni di Pantai Waioti dan Beru saja, di Waiterang juga lho. Awesome!!

Waiterang merupakan teluk dengan lekukan yang tidak begitu menjorok ke daratan, diapit oleh Kota Maumere, merupakan pantai utara Pulau Flores.

Letak geografis yang demikian, banyak biota laut hidup di pantai ini. Berbagai jenis ikan, bebagai jenis karang. Anehnya! Ikan di sini agak jinak, bisa didekati hingga jarak satu sampai dua meter. Asal tidak ditangkap loh ya..

Tidak seperti di Pantai Waioti atau Beru dengan karangnya yang menyebar luas, pada dasarnya sebagian besar pantai di Wawiterang berpasir, hanya ada beberapa tempat sekumpulan coral hidup yang tidak seluas di Waioti maupun Beru, tapi padat biota, ikan maupun hewan lainnya. Kalau pinjem analogi Anom, Spot yang kita datangi di Waiterang ini seperi Singapura, Kecil tapi padat. Nice analogy.

Ya oke lah seperti Singapura. Tapi ada yang mengganjal di dada kami kalau Singapura analoginya. Apa itu? I’ll elaborate it soon, just before I end this post.

Seperti karang pada umumnya, spot ini menjadi lokasi favorit bagi hewan laut untuk berkembang biak, bertempat tinggal, ber-hang-out ria, entah ngapain aja hewan-hewan ini.

Setiap spot mempunyai karakter coral masing-masing, demikian juga dengan hewan-hewan laut yang menjadikannya habitat mereka. Di spot ini, kami juga menemukan keanehan. Udah tau keanehannya dari gambar ini?

Udah keliatan sosok yang bersembunyi di balik coral ini? Belum. Oke, mari saya tunjukkan.

Dan akhirnya sosok itu mau juga keluar dari persembunyiannya. Membanggakan bentuknya. Anyway ada yang tau ini ikan apa? Clown fish? No. Lion fish? Apalagi! Aku menduga ini albino clownfish. Eh ga tau juga nih, tanya Anom yang kemungkinan besar juga ga tau.

Dimana ada koral, di situ ada ikan. Dimana ada ikan, di situ ada nelayan. Sebenarnya bukan nelayanya yang membuat resah selama ini, tapi bom ikan yang membuat resah selama ini. Bom ikan itu mesusak koral, merusak rumah ikan, merusak masa depan anak-cucu nelayan juga.

Another beautiful creature made by God. Lion fish. Tuhan Maha Adil, di balik keindahan lionfish tersimpan racun (venom, bukan poison), tepatnya di siripnya yang merentang lebar dan gagah.

Jadi, jangan sekali-kali menyentuh hewan ini jika belum paham betul cara memegangnya. Lionfish biasanya hidup di karang-karang. Jarang bergerak, dan bertahan di suatu tempat begitu lama. Jadi, hati-hati jika bertemu ikan ini. Jangan terhanyut dengan kecantikannya!

Jadi dengan elaborasi sepanjang ini, karang bukan hanya pajangan yang menghiasi lautan, lebih dari itu semua, karang adalah kehidupan bagi mayoritas hewan laut. Jaga baik-baik buat anak cucu kita.

Koral bagai sebuah kota bagi beberapa hewan laut, seperti kota bagi manusia!

Secantik apapun koral, jangan pernah mengambilnya dari tempatnya. Selucu apapun koralnya, jangan pernah mencabut hingga akarnya. Mari kita jaga agar anak cucu kita kelak masih bisa menikmati keindahan dan kelucuannya. Ahay!

Ada yang salah dengan Gambar ini? Yep! Trash. Sampah. Sebenarnya tidak ada yang salah dengan sampah, kalau dibuang pada tempatnya, tempat sampah. Tapi kalau di batu koral seperti ini?

Jadi masih ingat kenapa saya tidak setuju dengan analogi bahwa spot di Waiterang ini bagaikan Negara Singapura? Mungkin benar! Singapura sempit dan padat, mirip dengan gugusan Koral di sini. Tapi ada yang membedakan keduanya. Sampah!

Sampah dari berbagai penjuru pantai di Kabupaten Sikka masuk ke Waiterang, maklum teluk. Selain tidak sedap dipandang mata, sampah ini mengganggu habitat mereka yang tinggal di pantai ini. Jadi, simpan sampah kalian, buang di tempat yang semestinya. Banyaknya sampah merepresentasikan ketidakdewasaan kita menghadapi kemajuan jaman.

Semua orang masih ingin gerenari penerus menyaksikan Keindahan-keindahan yang Tuhan tebarkan di muka bumi, bukan? Jadi jauhkan bom ikan, amankan sampah kalian. Mau lihat komparasi Coral reef yang baik dengan yang sudah rusak? Well, Come along. Let me lead the way…

Ini adalah salah satu spot yang Batu Karangnya sudah mulai hancur. Begitu Kontras? Iya. Ini hanya berjarak beberapa puluh meter dari spot yang Tadi. Ironis? Sangat!

Dari hasil ngobrol-ngobrol Komenk dengan masyarakat sekitar, dulu, beberapa tahun yang lalu. Spot ini masih bagus, banyak dikunjungi wisatawan asing yang ingin menikmati pemandangan bawah laut lokasi ini. Iya, itu dulu. Saat bom ikan belum menghancurkan tempat ini.

Sekian lama Tuhan menyediakan banyak hal kepada kita melaui alam ini, jagalah baik-baik alam sebagi rasa syukur kita atas Kenikmatan yang Ia berikan. Rawatlah alam sebagai mana mereka merawat penduduk bumi selama ini. Cintai alam sebagai manifestasi kita kelak di masa yang akan datang.

Last but not least. Salam damai dari Kami. Buat yang mau berkunjung ke tempat ini, jangan lupa membawa kantong sampah. Menyempatkan beberapa menit sebelum atau susudah snorkeling buat bersih-bersih pantai juga oke loh. ……..Heal the world, make it a beeter place…..

Credit to:

Komenk, Anom, and Wisnu.

Standar
Esai

Cinta [1]

Cinta. Tidak jarang hanya terselip di dalam dada, tersembunyi pada lapis yang ketujuh. Pada lapis-lapis itu ibarat tirai yang harus kita sibak helai demi helai. Semua barang mahal belum pernah ada dalam sejarah yang berceceran di pinggir jalan. Bahkan mutiara pun tersembunyi di kedalaman samudra, tidak jarang untuk mendapatkannya, Engkau harus memiliki perahu, harus melawan gelombang, harus menyelam, harus melawan semua kemungkinan bahaya yang mungkin kau temui.

Wahyu sejak dulu sama. Hujan sejak dulu sama, sebagaimana api, sebagaimana cinta. Menukil analogi Rumi: Seratus lilin yang kau nyalakan, panasnya api yang pertama akan sama dengan panasnya api yang terakhir. Cinta tidak akan pernah hilang. Kebenaran tidak akan musnah. Hanya kepalsuan yang temporal dan akan musnah. Lihatlah Fir’aun, lihatlah Raja Namrud, lihatlah Abu Jahal, lihatlah Hitler……….atau lihatlah diri kita sendiri.

Jl. Don Thomas, 05 September 2015
Jam 2 Pagi WITA, Ba’da menyimak jalan cerita “kemajnunan” cinta Qais pada Laila

Standar
Sepetak Sawah

Manusia ke-ge-er-an

Memang sudah karakter manusia gampang menjadi ke-ge-er-an, ndak tau kenapa nuansa itu semakin kental akhir-akhir ini. Baru tahu beberapa ilmu yang mungkin orang lain belum menguasainya lantas diam-diam merasa lebih pinter, yang lain tidak memiliki kualitas berpikir sebagus dirinya. Baru melewati beberapa masalah hidup lantas diam-diam mengklaim memiliki mentalitas yang berkualitas, yang lain? Not a good quality. Yang paling rame sekarang adalah mereka yang berilmu dan beribadah lantas merasa paling suci, paling benar. Yang lain salah, yang lain neraka.

Padahal, jika semua ibadah kita seumur hidup dikumpulkan jadi satu, akankah bisa mengalahkan rahmat dan pemberian Tuhan? Mungkin tidak, karena manusia sejauh ini bahkan belum bisa mengatur mekanisme yang terjadi dalam dirinya sendiri. Kita ndak bisa ngatur kapan lapar, kapan kebelet pipis, kapan harus nelek. Kita ndak bisa nyuruh jantung berdetak, ndak bisa juga nyuruh istirahat. Lha ini kok ada yang ngatur siapa yg masuk surga, siapa yg masuk neraka. Masuk neraka atau surga mugkin hanya karena ridho Yang Memberi Hidup. Nah ridho-Nya ini yang harus dicari.

Jadi saat ada klaim sebagai yang suci, yang benar, dll sebenarnya agak lucu. Kl inget kisah Nabi Yunus As saat ditelan ikan paus. Dalam doa nya beliau bahkan ga ke-ge-er-an mengklaim dirinya sebagai seorang yang suci. Bahkan Beliau menyebut dirinya termasuk orang-orang yang zalim. La ilaha illa anta Subhanaka inni kuntu minaz zolimin (Tidak ada tuhan selain Engkau, Maha Suci Engkau. Sungguh aku termasuk orang-orang yang zalim.).

Ya mudah2 yang nulis, yang baca ndak gampang ke-ge-er-an. 
Ndak apa orang lain mengklaim punya kualitas berfikir lebih, kita biasa-biasa aja. Ndak apa yang lain mengaku punya mentalitas yang kuat, kita lemah. Ndak apa orang lain mengklaim apa, menjudge apa. Toh tujuannya sama, satu, ridho-Nya.

@aang_kunaefi
Jl Don Thomas, Maumere
30 Mei 2015

Standar
Esai, Sepetak Sawah

Memberi dan Menerima

Dalam hidup, baik dalam skala kecil yaitu pribadi diri sendiri, keluarga, hingga skala yang lebih besar, negara misalnya, Tuhan menciptakan setiap bagian untuk saling berinteraksi dalam rangka saling melengkapi agar semua bisa berjalan sebagaimana mestinya, sebagaimana yang seharusnya. Maka dalam interaksi itu harus muncul transaksi memberi dan menerima.

 ***

 

~ Memberi ~

Orang yang dermawan, suka memberi, suka berbagi dengan yang membutuhkan hampir selalu diposisikan sebagai orang yang seolah-olah memiliki derajat yang lebih tinggi dibanding orang yang menerima. Maka kemudian banyak orang menjadi demawan, menjadi suka berbagi, menjadi suka memberi agar dipandang sebagai orang yang memiliki derajat lebih tinggi dibanding yang lain, hingga dalam hatinya diam-diam ia merasa lebih keren sedikit dibanding yang lain. Dan kenungkinan jumlah orang-orang yang mendadak dermawan ini akan meningkat tajam menjelang pemilu, pilkada maupun pemilihan atau perebutan kursi panas yang lain. (?)

Dalam memberi terkandung banyak manfaat, memberi hanya akan mendatangkan mudharat jika dibarengi dengan sifat riya’, ke-ge-er-an, merasa menjadi pahlawan dengan pemberiannya, merasa mengungguli orang atau pihak yang ia beri. Dalam aspek keagamaan memberi menjadi salah satu pemerataan kekuatan ekonomi, ya karena alasan itu maka diwajibkanlah zakat yang merupakan salah satu rukun Islam. Dalam aspek kenegaraan, memberi juga bentuk sumbangsih rakyatnya guna membangun negaranya sejak dahulu kala, maka diwajibkanlah warganya yang berpenghasilan lebih untuk membangun semua sarana untuk digunakan bersama, termasuk sarana yang kemudian digunakan termasuk orang yang kekurangan yang notabene penghasilannya masih dibawah batas penghasilan dikenai pajak.

Mungkin memang demikian dialetika Tuhan, dalam bahasa yang lebih sederhana, memberi bisa berarti membantu yang lain dengan subsidi dari yang mempunyai penghasilan dan rezeki lebih, membebaskan mereka yang kesulitan dan ini hanya dilakukan orang yang mempunyai kelapangan hati.

Konon, Rosulullah pernah bersabda, “Tangan yang di atas lebih baik dibanding tangan yang di bawah”. Dari hadis Nabi itu kemudian kita bisa berbondong-bondong memberikan penafsiran bahwa orang yang memberi kedudukannya lebih baik dari mereka yang menerima. Tanpa sadar kita bisa terjerumus dalam dua variabel tersebut tanpa memperhitungkan variabel yang lain dalam dialetika hadis tersebut. Siapa tahu Belaiu ingin menggiring kita ke variabel yang lain dalam dialetika tersebut, mungkin variabel itu perspektif Tuhan terhadap kita. Siapa tahu.

Ya, siapa tahu Beliau mau ngingetin kita, janganlah kamu menjadi miskin atau fakir hingga kamu meminta-minta selain kepada Tuhan yang pada akhirnya menggiringmu kepada kekufuran. Untuk mencegah hal itu, maka jadilah kamu yang memberi, jadilah kamu yang dermawan, jadilah kamu orang yang mencegah orang meminta selain kepada Tuhannya. Maka dengan demikian diam-diam secara tak sengaja kamu sudah mengimplementasikan ayat Iyyakana’budu wa iyya kanasta’in. Maka memberi sebelum diminta itu top. Bagaimana dengan menerima?

***

 

~ Menerima~

Jika berbicara konteks memberi, maka jelas bahwa maoritas yang memberi mempunyai kelapangan yang lebih, mempunyai rezeki yang lebih, mempunyai power yang lebih dibanding yang diberi. Ya walaupun mayoritas itu tidak berarti semuanya karena ada juga  secara materi tidak cukup-cukup amat, secara kedudukan tidak begitu powerful, dan hidupnya tidak lapang-lapang amat, tapi meka juga mau dan ikhlas memberi. Jadi mereka memberi bukan karena kehidupannya serba berlebih, akan tetapi mereka tahu dan pernah merasakan hidup tidak berkecukupan. Ini orang yang lebih top lagi.

Jadi kita boleh menauladani jika ada orang yang berlebih secara materi, secara kedudukan powerful, dan kehidupannya secara total lapang, yang sangat dermawan, bisa membuka lapangan pekerjaan yang luas, seluas rejeki orang yang membutuhkan,  namun tidak perlu terlalu heran dan gumun. Alhamdulillah mereka sudah menunaikan kewajibannya sebagai khalifah, sebagai duta tuhan untuk menyampaikan rahmat-Nya kepada sesama.

Tapi ngomong-ngomong, mungkin kita terbiasa dengan memberi, mungkin kita begitu mudah ikhlas saat memberi, tapi pernah ga kita bertanya kepada diri sendiri, bisa ndak kita ikhlas? Bisa ndak kita “menerima” semua takdir Tuhan?

Maksudnya gini, jika direfleksikan ke dalam, ke diri kita sendiri, kecenderungannya kita mau dan siap menjadi orang kaya yang dermawan, mau dan siap menjadi pemimpin yang membantu kesulitan-kesulitan anak buahnya atau rakyatnya, mau dan siap menjadi pengusaha yang memberikan lapangan rezeki kepada orang-orang yang membutuhkan. Insyaallah kecenderungan kita mau, siap dan ikhlas.

Tapi bisa ndak kita menerima jika Tuhan menakdir kita hidup tidak sekebercukupan orang lain di sekitar kita? Bisa ndak kita menerima jika hidup kita dilanda kesusahan? Bisa ndak kita menerima saat ditakdirkan menjadi orang yang tanpa pangkat? Konklusinya, kira-kira bisa ndak kita menerima takdir Tuhan ketika takdir itu mungkin tidak selaras dengan harapan kita?

Pernah ndak kita meminta kedudukan yang lebih tinggi, saat doa diistijabah kita diam-diam ngedumel tidak terima, tidak ikhlas, tidak ridho dengan pekerjaan yang lebih lebih banyak dari biasanya. (?)

Jadi kadang-kadang orang yang bisa ikhlas memberi belum tentu ikhlas menerima. Mungkin saja. Dan tidak menutup kemungkinan orang yang pandai menerima mempunyai mental dan dialetika lebih romantis terhadap Yang Menciptakannya.

Karena tidak semua bisa dan mampu “menerima” ketentuan Tuhan terhadap kita. Tidak semua bisa “menerima” kemelaratan yang Tuhan ujikan kepada kita.

 ***

~ Memberi vs menerima? ~

Jadi memberi atau menerima itu adalah alat dalam konteks memaknai dialetika dalam hidup ini. Namanya juga alat, tergantung yang menggunakan mau digunakan untuk tujuan apa. Maksudnya begini, jangan sampai dengan memberi kita merasa lebih baik dari yang menerima, itu sama saja diam-diam kita menghinakan orang lain. Sama halnya dengan sholat, jangan sampai sholat kita menggiring kita untuk mengejek orang yang belum solat hingga melukai perasaan orang lain, karena pada dasarnya jihat itu mengajak bukan memaksa apalagi sampai menghina. Sama halnya juga dengan menikah, jangan sampai nilai ibadah dalam pernikahan hilang hanya karena pernikahan dijadilan alat untuk mengejek mereka yang belum menikah. Jangan sampai haji kita tidak mabrur hanya karena setelah haji kita merasa lebih suci dari orang lain yang belum bisa dan belum mampu melaksanakan haji. Dan kerangka seperti ini bisa diaplikasikan ke variable-variabel lain.

Memberi atau menerima, jangan-jangan itu bahasa romantis Tuhan untuk menguji kemurnian hati kita, manusia? Siapa tahu.

@aang_kunaefi

Maumere, 29 Mei 2015

Standar
Travel

Underwater Pelabuhan L-Say, Maumere

Jenuh dengan rutinitas pekerjaan di kantor, sabtu sore, 28 Maret 2015, kami mencoba spot snorkeling di bawah laut pelabuhan. Bagi saya, spot ini baru bagi saya, karena biasanya kami snoerkeling di Beru, Waioti, Pulau Babi, Pangabatang, dll. Hanya berjarak beberapa ratus meter dari tepat kami, maka spot ini jadi alternatif bagi raga yang lelah dan jiwa yang jenuh.
Terdapat kapal karam di salah satu spot pelabuhan L-Say yang menjadi “rumah” bagi beberapa spesies bawah laut. Selain itu, tiang-tiang penyangga sepanjang pelabuhan juga menambah artistik dunia bawah laut.

And here we go…..

image

Sebenarnya kami berlima, namun hanya empat orang dari kita yang nyebur ke laut. Dari kanan Helmi a.k.a. Komeng, saya sendiri, Bli Anom, dan Mas Igun.

image

Tidak perlu menunggu lama, tak jauh dari pinggir pelabuhan terdapat bangkai kapal yang entah kapan tenggelam di sini, diliat dari struktur bangkai kapan yang masih utuh, sepertinya tidak begitu lama kapal ini tenggelam.

image

Jika sedang surut, samar-samar kapal ini terlihat dari atas pelabuhan, tapi jika air sedang pasang, maka perlu menyelam beberapa meter untuk melihat kapal ini secara keseluruhan.

image

Tidak seperti beberapa pelabuha di Pulau Jawa atau kota besar lainnya, pelabuhan di sini masih terbilang jernih airnya, tanpa tumpahan minyak atau limbah lainnya.

image

Lanjut ke jejeran tiang penyanggah pelabuhan, masuk ke dalam tiang ini seperti masuk ke dalam “rimba” tiang. Dengan kedalaman yang tidak dangkal, di sini agak gelap.

image

Dengan tiang-tiang menjulang dan tak teratur, tempat ini terlihat artistik. Tapi jangan sekali-kali mencoba menyentuh karang yang hidup menempel di tiang-tiang ini jika tidak tangan kalian sobek, seperti jari saya.

image

Kurang tahu berapa kedalaman di sini, sejauh mata memandang tidak sampai ke dasar laut. Namun demikian, jangan terlalu penasaran, karena terlalu riskan menyelam terlalu dalam tanpa membawa tabung oksigen.

image

Banyak mahluk hidup yang menempel di tiang-tiang ini. Benerapa tumbuhan laut bahkan menyediakan tempat berlindung bagi beberapa ikan.

image

Bergeser agak ke pinggir, beberapa ikan unik hidup di sini.

image

Masih menjadi perdebatan antara saya dan Bli Anom apakah ikan ini scorpion fish atau lion fish. Menurut pengamatanku ini adalah scorpion fish seperti yang kadang saya lihat di Waioti. Menurut kalaian?

image

It’s just another story of my life here, in Maumere.
Berlibur jangan lupa kerjaan, karena senin sudah kembali.

Epan Gawan!
(Terima kasih, bahasa Maumere)

Jalan Don Thomas Maumere.
28 Maret 2015
@aang_kunaefi

Credit to:
Komenk, Mas Igun, Azzar and Bli Anom for Taking these Photos

Standar
Esai

YOUR INTUITION OR YOUR EGO?

Beberapa orang memang tidak akan percaya panasnya api hingga ia suatu saat mungkin terbakar dan merasakan sendiri.
Beberapa orang juga tidak akan percaya dalamnya jurang hingga ia terjatuh ke dalamnya.
Beberapa orang juga tidak akan percaya dalamnya samudera hingga ia tenggelam dan mungkin saja tak akan kembali.

Segigih apapun kamu menasehati, sekuat apapun kamu memberi tahu, sekeras apapun kamu melarang, mungkin ia tidak akan mendengarmu. Jika hingga level ini semua nasehatmu, semua larangan yang kamu sampaikan tidak ditampung, tidak digubris. Mungkin sudah saatnya menyerahkan semua kepada Zat yang membolak-balikkan hati.

Bukan salahmu jika nasehatmu, semua saranmu tidak didengar, karena setiap manusia tidak hanya dianugerahi hati kecil, tetapi juga ego, keakuannya.
Adalah kesalahanmu jika kamu tidak melakukan apa-apa untuk merubahnya, untuk mencegah hal yg tudak diinginkan terjadi.

Man Proposes, God disposes!

Kewajiban kita adalah berusaha, Hasil adalah mutlak wilayah Tuhan.

If you feel you’ve done the best, then let God do the rest.

Don Thomas, Maumere.
21 Oktober 2014
23.25 WITA

Standar
Esai

Rumah

Sejak hidup jauh dari rumah, sering muncul momen-momen memikirkan rumah. Entah hanya sekedar kangen rumah, merasa berada di rumah di tempat yang baru; atau vice versa, merasa tidak di rumah di tempat yang baru. Sejujurnya apa rumah itu?

Rumah. Ya, rumah bukan sekedar bangunan (a house). Rumah bukan sekedar tempat untuk berlindung, makan, tidur dan melakukan rutinitas lainnya – semua orang sudah mengerti tentang konsep ini.

A house is not always a home. Jadi, apa bedanya?

Jika kamu bilang “aku kangen rumah”, benar yang kamu rindukan hanya fisik gedung yang dulu atau saat ini masih kamu tampati? It’s A BIG NO.

Jadi, rumah itu ya bisa bangunan itu sendiri, Ibu, Ayah, Kakak, Adik – semua orang yang kita sayangi. Rumah bisa juga berarti gudang tanpa batas yang menyimpan kenangan masa lalu, rumah adalah simbol keteduhan dalam perlindungan keluarga, bagai pohon tua yang rimbun yang meneduhkan siapa saja yang berada di bawahnya – home is where my heart belong to.

Yes, home is more than finacial assets. Every home has deep emotional meaning.

Rumah lah yang membuat hati damai, kerasan dan menyembuhkan dari segala hiruk-pikuk kesibukan dunia. My home is a place where I close the door the door on chaos dan find some kind of cosmos.

Jadi, ga perlu heran jika banyak orang mengorbankan banya hal hanya untuk pulang. Setelah sekian lama jauh dari nuansa rumah, setelah sekian lama bergelut dengan berbagai rutinitas kerja dan problematika yang menyertainya, manusia perlu pulang ke rumah untuk mengendapkan semuanya pengalaman pribadi. Me included.

Ya, pada akhirnya rumah tidak selalu gedung. Rumah bisa berupa kenangan masa kecil yang masih hidup di kampuang halaman, rumah bisa berupa baru tanah kemarau yang menyeruak ketika dibasahi hujan pertama di setelah kemarau panjang. Rumah bisa berupa orang-orang tersayang yang tidak pernah bosan memberi payung keteduhan, penghormatan tanpa batas. Rumah bisa berupa orang-orang yang selalu membuat kita tidak merasa asing, tidak merasa sendiri. Mirip seperti yang diilustrasikan Billy Joel;

 

“Well, I’ll never be a stranger and I’ll never be alone. Whenever we’re together, that’s my home.”

[You’re my home/Billy Joel]

 

 

Don Thomas, Maumere.

20072014

Post Script: Tulisan ini agak sentimentil, karena ketika menulis rasa kangen rumah tidak bisa dipisahkan dari konten tulisan ini

Standar